KOPI DALAM GERIMIS
Kopi hitam ini, mengepul. Gerimis jatuh di situ. Tak ada siapa-siapa, aku menatap keluar jendela. Cuma aku dan secangkir kopi. Kopi yang pahit. Tapi, gerimis yang manis.
Diam-diam sunyi mengembun di kaca pintu. Angin Juni mengelus rindu. Hidungku memantul di hitam kopi. Waktu yang gaib. Segala peristiwa membayang di secangkir kopi. Seperti menjenguk kesendirian yang dalam setelah ditelan kesibukan.
Tak ada apa-apa. Cuma sunyi, kopi, gerimis, dan angin yang manis. Ada kata tanpa suara.
Segala masa lalu kita, bagai berkaca di hitam kopi ini. Tentang ladang pembantaian, kelicikan, kecongkakan, keculasan, pembodohan, menodong sejarah pakai senjata, kemegahan yang memuakkan, dan entah apa lagi. Kita berebut di cairan hitam ini. Kopi pahitku, tak lebih pahit dari masa lalu sejarah kita, bukan? Sebentang masa, yang dengan riang kita agungkan sebagai kenangan.
Di luar gerimis. Gerimis yang membayang. Bunga-bunga jambu berguguran. Air hujan mengalir ke tempat-tempat rendah. Ada selokan. Ada wajahmu dan wajahku yang kedinginan. Sunyi yang panjang. Keperihan. Mengacungkan pisau di pintu-pintu lembaga, di gerbang-gerbang pabrik, di kaki-kaki gedung yang megah. Menjerit histeris oleh derita. Atau menjambak rambut sendiri menyembah iklan dan mimpi-mimpi di siang hari.
Tinggal gerimis sekarang. Kopi hitam dan segala yang karam. Segala yang benam.
Aku bayangkan sebotol air mata buat sejarah. Ia dituangkan di gelas-gelas bening mendenting. Orang-orang bersulang. Kelap-kelip lampu, gigi-gigi bertaring menyeringai. Dentuman-dentuman pesta. Kegilaan, kebohongan, kebencian.
Tinggal gerimis sekarang. Kopi hitam dan segala yang dibenamkan.
Percakapan gaib. Tiap kata tak mengeluarkan suara. Tiap desah dipenuhi cemas yang awas.
Gerimis, kopi hitam, dan bayangan-bayangan. Penantian yang panjang. Kelam, dalam, hilang. Ranting-ranting musim, menyiku rindu yang melumut waktu.
“Orang asing. Silahkan duduk di situ. Di hadapan kopi, kita cuma manusia biasa,” kata entah siapa. Berbisik mengiris sepi. Tapi gerimis tak menepi. Terus mengisahkan kembaranya dari negeri-negeri yang jauh. Tetesan hujan dari tepian-tepian genting, bersetia bagai tetesan air kran yang bocor. Sunyi dan kelam, benam dan kegelisahan, menggelung berabad penungguan tak pernah selesai. Kehilangan di tepi persimpangan.
Gerimis sekarang, kopi hitam. Ada pertanyaan tak mengeluarkan kata-kata, dibawa angin, menyelinap di lobang kunci. Mengendap di bawah dinding. Bunga-bunga kertas. Asap puntung yang penghabisan.
“Duduklah di sudut ruang. Di kursi tua yang tenang. Tapi di hadapan kopi, kita sama,” bisik ingatan.
Namun, di negeri itu. Percakapan dilakukan di ruang yang mudah tercekam. Demam. Orang-orang beriman kepada iklan dan kepalsuan. Menyembah kelamin dan percintaan-percintaan yang gombal.
“Nikmatilah kopi hitammu. Larutkan kecemasan dalam kafein. Menghangatkan dadamu,” bisik entah siapa. Melompat dari ketiadaan.
Angka-angka penanggalan berguguran di situ. Kau menyapunya dengan perih yang aduh. Tapi, harapan masih menggeliat di akar-akar rerumputan. Merayap pelan bersama kesangsian.
Gerimis sekarang. Kopi hitam, dan bayangan-bayangan yang hampir tak tertangkap.
Oh alangkah agungnya hidup. Bahkan harga diri dan kehormatan, dihamburkan. Diiklankan dan diaudiovisualkan. Tapi, di situ kau mengutuk keadaan. Di sisi lain, alangkah jijiknya hidup. Bahkan negara pun dibanting di pentas goyang, di antara lampu, jeritan histeris, dan tubuh-tubuh setengah telanjang. Para penghisap tertawa dalam pesta, bersulang segelas air mata.
Gerimis sekarang, kopi hitam, dan kesendirian. Bayangan-bayangan bagai tak mau menghilang. Di sini menunggu. Ada waktu yang gaib. Sebatang rokok yang belum dinyalakan.
Malam. Gerimis. Musim. Angin Juni. Suara air mengisi relung-relung yang kosong, jeda yang panjang. Panjang dan lengang.
Oh dunia dan lampu-lampu. Kadang-kadang orang tiba. Entah dari mana. Kadangkala orang pergi entah akan kemana. Oh bunga-bunga yang merana. Sejarah menyusunmu menjadi rangkaian indah. Kemudian dihancurkan ke tempat sampah.
Gerimis. Kopi hitamku yang pahit, mengisahkan ruang yang menghimpit. Seperti kesempatan yang menipis. Tersudut di bawah garis.
Kopi pahitku. Tinggal kamu dan aku. Mendiami rindu yang gamang. Membayangkan pulang. Menceritakan harapan yang terus menggeliat di kaki sangsi.
Gerimis sekarang, kopi hitam yang pahit, gunung jiwa, sungai-sungai usia.
*
HUJAN DI UJUNG PRAPATAN
Ada yang menyelinap di situ. Di udara gamang dan muram. Dalam asap beracun. Kulit-kulit mie instan. Bunyi nasi goreng, dan hujan berkejaran di puncak-puncak menara yang menyalakan lampu. Mendesah nafas purba.
Berita dari kotak radio bagai angin menabrak jendela. Pembunuhan, penipuan, mutilasi. Segala motif mendekam diam di balik segala dugaan. Dan kutukan memenuhi udara, bagai lapar yang tak bersudah. Oh dunia dan bis-bis kota. Orang-orang datang, orang-orang pergi, orang-orang hilang, orang-orang tertikam. Di tempat lain, orang-orang berbangga pada jabatan yang singkat, pada kemewahan dan kemegahan yang congkak dan kalap.
Dan di prapatan tua itu, tumpahan gelisah manusia. Perdagangan tumbuh cemas. Ingin menumpas waktu. Tapi, badan dan pikiran beku. Hidup bagai cuma paruh yang tersiku keluh. Melulu. Ada yang selalu menyelinap. Dalam gelap tak berjawab. Atau kesal yang tak selesai. Perjalanan yang belum sampai. Di bawah langit di bawah hujan. Pohon-pohon tepi jalan. Kantuk dan lelah. Ada jawaban belum menjanjikan kepastian.
Prapatan jalan, basah dan tua. Tempat tumpah gelisah malam-malam yang tiba. Menjilat gelap. Dan menyanyikan ratap-ratap.
Ada yang tiba-tiba melompat. Menyelinap di tikungan jalan.
Zaman, kenangan, kerinduan, kecemasan-kecemasan. Guntingan-guntingan ingatan bersenyawa dalam gamang. Sepi pun jadi. Gerimis membayang di lubuk keterasingan.
*
NARASI HUJAN
karena pesawatmu jatuh
bunga sedu
lebam di pipi waktu
keluh menyiku ke tiap deru
hujan tiba
menegur kesah
sebab luka ke tiap kata
adakah ia yang kau namakan derita
membawakan cerita yang tak kunjung pada
melewati musim bunga
dan sungai-sungai usia
kota-kota berderai dalam gerimis
jendela-jendela angin yang tipis
januari menguntumkan bunga di dadamu
dan rindu kandas di alis pintu
tapi di sana kegaduhan pun ditidurkan
karang laut yang tegar
gelombang yang bergetar
menculik hatimu ke palung waktu
bersembunyi di balik rindu
rahang pertanyaan dan badai pergantian
derita dan jenaka bermuara dalam kata
bercerita desah
dari segenap sua
sebab bunga
berlayar kembara
menyindir petaka
dalam hujan malam-malam
dan di lubuk sajak ini
yang tiada menjadi abadi
gerimis renyai
dingin senja yang capai
adakah itu deritamu
berayun-ayun dalam kabut itu
mengajak singgah para gembala
padang kesunyian
mata air keheningan
ada yang mendiskusikan jejak perlintasan
persinggahan-persinggahan
sepatu-sepatu hitam
dan suara-suara gelombang
perang belum usai
ada layang-layang putus melayang
di dalam dada
di dalam tanda
sebab di padang kesunyian
ada sepasang merpati di dahan
seperti menyediakan jawab
dari segala harap
yang entah di mana tanggalnya
fana derita
radio tua
jaringan-jaringan maya
dan duka yang baka
karena musim hujan
adalah sungai-sungai air matamu
maka aku menyelinap dalam kabut
dan basah pohonan
menerjemah cerita ke musykil belantara tanda tanya
seorang pedangdut tua
mengalunkan irama lama
memuji segala kejelitaan
dan menangisi segala kehilangan
tapi, di dalam sajak ini
kau tidak akan ditinggalkan
memanen musim
dan menyalakan lampu-lampu
dalam lubuk
lewat abad-abad yang sibuk
tuhanku,
kau adalah air mata
dalam jiwa-jiwa derita
meminang keluh kesah dan sedih
menjadi kekasih sejati
dalam sunyi
yang mengembun di jarum-jarum arloji
lalu cahayamu
terbit di situ
jendela-jendela menerima udara
menatap hujan dengan doa
tuhanku
di dalam hatiku namamu
dan kau tiada
dalam adamu
tapi, aku tak ketemu
~*~
surat-surat
menumpuk di meja
musim hujan mengetuk kaca
alamat tertutup cuaca
dan di dalam derita
orang-orang masih bercanda
sebab kehendakmu
hati manusia menjadi wortel dan mangga
tapi, di antara cuaca yang celaka
masih ada yang memasak luka
lalu dihidangkan di atas meja
~*~
ada yang terus melintas
melompat-lompat di tegas batas
di antara gedung-gedung megah
jembatan tua
dan gubuk-gubuk lapuk
gemeretak kereta
memasuki stasiun hujan
menanti sejenak para penumpang
yang semakin menua
kopor-kopor tua
mimpi dan harapan
terselip di sela bangku-bangku
ada pipi sunyi yang dingin
ada mata mendung yang rundung
ada pertanyaan yang tak menanti jawaban
ada jawaban yang tak menjanjikan kepastian
balok-balok pikiran
tabung gas tiga kilo
hujan dan pohon mangga
menyuguhkan kepadamu cerita anak-anak bersepeda
melewati gedung bioskop yang tua
musim hujan memang tak akan bercerita padamu
tentang kenapa air jatuh dari sana
sebab, hujan adalah cerita dirinya
kembara dari mana saja
dari tempat-tempat asing yang begitu jauh
hujan pun menyirami apa saja
menyirami kedangkalan
bahkan menyirami kepongahan
ia hanya mengerti
bahwa ia harus merintik ke bumi
adakah suara angin daunan
mengetuk pintu itu
menyampaikan kata dari kabut waktu
dan mengurai derita
yang dianggap mentega
marilah musim hujan
kemarilah dalam perjamuan
makan malam
atau kopi dari sunyi
membincangkan orang-orang asing
yang terjebak dalam musykil gerimis
tuan hujan
dari mana anda datang
bukankah terlalu banyak omong kosong
dari daun-daun pintu yang rusuh
permainan kata-kata
yang memenuhi tempat sampah
tuan hujan
baiklah
mari kita nyalakan saja
lampu-lampu senja
sebelum malam menyergap kita
menyimak cerita
jaman yang becek
para pembual bermain audio visual
jaringan-jaringan, suara-suara
gelombang-gelombang
dan kita mengutuk rindu
atau mendidihkan air mata
kemudian mengolah derita
menjadi merkuri dan sianida
tatapan-tatapan yang bermendung
lagu-lagu rundung
sebab cuaca celaka
mempertanyakan tetes embun di dalam pikiran manusia
tapi, jangan lelah
bisik kembara
ransel tua
sepotong mangga
ada sendiri
dan seiris sepi
tiba-tiba langit hujan, tuhanku
aku mencarimu di antara gemuruh
aku menyimpan namamu dalam hatiku
di antara pencarian
dalam belantara kehilangan
dan gunung-gunung kepedihan
laut jawa
gelombangnya purba
para pembual
menyampaikan keterangan
dan pembelaan
sedang di lubuk kehilangan
orang-orang meminum air mata
dan menghirup amis kehidupan
bagai jutaan nasib kenyataan
yang dimiskinkan
marilah tuan hujan
menikmati malam
bersama kerinduan
dan irisan bawang merah
untuk menenangkan lambung kita
Muncar, 2015-2020
_________________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.
