Kritik Sastra ‘Postmodern’: Kontra Estetika

Yosi M. Giri*
Lampung Post, 24 Mei 2009

SEBUAH karya sastra, dalam wujud apa pun memiliki kandungan yang selalu dibalut oleh unsur-unsur estetis. Tak peduli, siapa pun penulisnya, karya sastra akan dihadapkan pada muatan seni yang ditawarkan secara eksplisit atau sembunyi-sembunyi (implisit).

Di samping itu, unsur imajinatif dan keberbagaian tafsir adalah ciri yang melekat dan pastinya akan selalu ada. Jika tidak ada unsur-unsur fiktif inilah justru karya sastra patut dipertanyakan kesahihannya. Continue reading “Kritik Sastra ‘Postmodern’: Kontra Estetika”

Risalah Sengsara

Judul : Ma Yan
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Cetak : 2009
Tebal : vii + 214 Halaman
Peresensi : Bandung Mawardi *
Lampung Post, 31 Mei 2009

KISAH sengsara tak usai dalam novel. Sengsara seperti jadi kutukan untuk pengarang menciptakan kisah dengan haru dan impresif. Pengarang dalam mengisahkan sengsara memiliki acuan-acuan melimpah dalam realitas hidup. Sengsara selalu ada untuk menjelma dalam kata dan imajinasi. Continue reading “Risalah Sengsara”

Perang Bubat yang Lain

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009

PERANG itu konon terjadi tahun 1357 Masehi, di sebuah tempat bernama Bubat. Ketika itu, Raja Galuh Prabu Maharaja Linggabuana datang membawa putrinya yang cantik, Dyah Pitaloka Citraresmi. Kedatangan raja Sunda beserta rombongan adalah untuk menikahkan putrinya dengan Raja Majapahit Hayam Wuruk. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Kedatangan rombongan dari Kerajaan Galuh itu oleh Mahapatih Gajah Mada ternyata dimaknai lain. Bukan untuk perkawinan, melainkan penyerahan putri Dyah Pitaloka untuk diperistri Hayam Wuruk sebagai tanda bahwa kerajaan Sunda Galuh mengakui kekuasaan Majapahit. Continue reading “Perang Bubat yang Lain”

Bahasa »