Saya Melukis ‘Sesuatu’; Tidak Berdiri di Atas Satu Kaki

Benny Arnas *
Lampung Post, 9 Okt 2011

SAYA pikir, mengarang adalah melukis. Kata-kata adalah catnya. Kemampuan melukis diawali dari kecakapan dasar, yaitu menggambar. Saya masih ingat. Ketika masih duduk di bangku SD, kesenian adalah pelajaran yang saya tunggu-tunggu. Sebenarnya, tidak semua jenis (ke)seni(an) saya sukai. Tapi, guru kesenian kami sering memberikan pelajaran menggambar. Sering menyuruh menggambar, lebih tepatnya. Menggambar apa saja. Continue reading “Saya Melukis ‘Sesuatu’; Tidak Berdiri di Atas Satu Kaki”

Di Mana Persembunyian Karya Sastra Anak Lokal?

Dessy Wahyuni *
Riau Pos, 9 Okt 2011

“KE mana… ke mana… ke mana kuharus mencari…. Di mana… di mana… di mana tinggalnya sekarang….”

Belakangan ini kata “di mana” dan “ke mana” menjadi sangat populer, baik di kalangan orang dewasa maupun anak-anak, di jalanan maupun di perkantoran, bahkan di angkutan umum maupun di televisi. Ayu Ting Ting menjadi sangat terkenal dengan “Alamat Palsu”-nya tersebut. Continue reading “Di Mana Persembunyian Karya Sastra Anak Lokal?”

Mengapa Puisi Anak-anak Lebih Bening?

Dwi Rejeki
Suara Karya, 8 Okt 2011

BENARKAH membuat puisi itu sulit? Jika memang sulit, bagaimana mungkin anak-anak usia sekolah dasar atau bahkan anak-anak yang baru masuk sekolah menengah pertama sudah bisa membuat puisi puisi yang berkualitas?

Kenyatannya memang demikian. Anak-anak sekolah dasar dan mereka yang baru duduk di bangka SMP sudah pandai membuat rangkaian puisi. Kualitasnya pun layak dibanggakan, bisa jauh mengalahkan kualitas puisi-puisi yang diciptakan para seniornya, yakni anak-anak yang sudah menduduki bangku sekolah tingkat atas, bahkan anak-anak mahasiswa. Continue reading “Mengapa Puisi Anak-anak Lebih Bening?”

Gema yang berpendar di kejauhan

Asarpin *

Ketika hari hampir gelap, dan senja hanya terlihat di tepi ufuk lembut yang bisu, sebelum kemudian tenggelam di balut kelam, seorang penyair muncul di sebuah podium untuk membacakan sajak-sajaknya. Sang penyair dikenal di negerinya sebagai sang otoritas yang tak terjangkau, suatu dewa eros yang terus bicara tapi tak mendengarkan. Sajak-sajaknya menampilkan monolog batin yang sok khusuk dan khidmat. Tetapi, di kalangan kritikus sastra ia dikenal sebagai seorang narsisme Hindu yang panjang umur. Hal itu terlihat pada kegemaran puisinya pada labirin. Continue reading “Gema yang berpendar di kejauhan”

Ibuku Perkasa

Ahmad Zaini

Di bilik rumah sebelah kanan, terdengar suara suamiku mengerang-erang kesakitan. Riuh rendah suaranya terbawa oleh hembusan udara yang memenuhi ruang depan. Rintihan-rintihan itu seakan seperti sembilu yang menyayat-nyayat kalbu. Rasa sakit yang berkepanjangan belum juga sampai ke muara kesembuhan. Pedih rasanya mendengar erangan suami yang menahan rasa sakit di luar kemampuannya. Continue reading “Ibuku Perkasa”

Bahasa »