Pluralisme dan Nasionalisme: Gus Dur dan Frans Seda

Ignas Kleden
majalah.tempointeraktif.com

LAHIR dan mati adalah peristiwa harian. Tapi kematian dua orang pada akhir 2009 mendapat perhatian khusus karena bertepatan dengan penutupan tahun, dan karena yang wafat adalah dua tokoh seperti Gus Dur dan Frans Seda. Gus Dur wafat pada 30 Desember pukul 18.45, dan Frans Seda menyusul sehari sesudahnya, pukul 05.00. Keduanya berpulang sebagai pribadi yang penting dan menarik, sebagai pemimpin yang meninggalkan jejak, baik pemimpin golongannya maupun pemimpin berkaliber nasional. Continue reading “Pluralisme dan Nasionalisme: Gus Dur dan Frans Seda”

Filsafat sebagai Perkakas Kehidupan

Menukik Lebih Dalam: Kenangan 40 Tahun STFK Ledalero
Penyunting: Paul Budi Kleden dan Otto Gusti Madung
Penerbit: Ledalero, Maumere: 2009, xx + 474 halaman
Peresensi: Martin Lukito Sinaga *
http://majalah.tempointeraktif.com/
Buku ini mencoba menceritakan sambil merayakan 40 tahun kehidupan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik di Flores. Caranya: melalui pusparagam pikiran dalam tulisan para muridnya yang tersebar di berbagai profesi. Alih-alih sebuah kisah sukses yang muncul (yang umum dipakai untuk promosi diri), percobaan itu malah menguak luasnya persoalan yang harus dihadapi dan disebabkan oleh filsafat itu sendiri. Continue reading “Filsafat sebagai Perkakas Kehidupan”

Sejarah Singkat Pulau Kita Flores

Hans Hallan
http://larantuka.com/

Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis “Cabo de Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubenur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan Flora yang dikandung oleh pulau ini. Continue reading “Sejarah Singkat Pulau Kita Flores”

Perihal Anjing Yang Suka Azan

Sabrank Suparno

Di perantauan mana pun, yang penting bagi seseorang ialah sopan, jujur, dan tahudiri. Itu kunci. Bagaimana menempatkan diri sebagai perantau! Siapa tuan rumah? Siapa pendatang? Jika itu dilakukan, saudara dan orang tua dengan mudah terjalin di mana saja.

Awalnya aku mengenal I Ketut Sunyahne, Balinese tulen yang tak begitu cakap berbahsa Indonesia, tapi dia malah mengerti kalau aku berbahasa Jawa kuno. Continue reading “Perihal Anjing Yang Suka Azan”

Bahasa »