KACAMATA

Indiar Manggara

Kacamata itu masih dibiarkannya terlipat rapi. Bagio terus memandanginya dengan bermacam pertanyaan di benaknya yang tak pernah ia temukan jawabannya.

Kacamata itu berada tepat di pojok kiri, di atas meja tulisnya dan dibiarkan begitu saja terlipat rapi, hanya dialasi selembar tisu toilet. Meskipun di sekitar kacamata itu buku-buku dan peralatan tulisnya berserakan seperti rongsokan, tetapi pandangan Bagio tak pernah lepas sedetik pun dari kacamata itu. Seolah-olah kacamata itu melekat pada kedua bola matanya. Continue reading “KACAMATA”

Bunga Teratai yang Basah: Renungan Tentang Budha & Biksu di Myanmar

Asarpin *

Dengan Budha
semoga rasa cinta kita memenuhi semesta
di atas, di bawah, di seberang, tanpa batas.
Kebaikan tak berhingga pada semesta
tak berbatas, bebas dari benci dan perseteruan
–KAREN AMSTRONG, Menerobos Kegelapan

Sidharta bukan keturunan kaum paria. Keluarganya terpandang dan hidup dalam istana. Siapa sangka kelak ia akan meninggalkan istana dan masuk ke dalam hutan yang sunyi seorang diri. Menjadi Budha. Continue reading “Bunga Teratai yang Basah: Renungan Tentang Budha & Biksu di Myanmar”

Sayu

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

Seseorang pernah mengatakan ia “sentimentil”, dan ia sendiri mengakui itu “benar”. Tapi saya tak yakin. Sampai ia meninggal karena kanker pankreas di Paris pekan lalu dalam umur 74, Jacques Derrida adalah pemikir yang bicara bukan lantaran ia mudah terharu. Bahasanya tak mendayu-dayu, bahkan kerap kali rumit. Pandangannya tak terasa murung. Tidak, ia bukan pemikir yang “sentimentil”. Derrida adalah suara yang sayu. Continue reading “Sayu”

Salam dari Derrida, Jacques

Radhar Panca Dahana
majalah.tempointeraktif.com

LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea. “Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak. Continue reading “Salam dari Derrida, Jacques”

Berburu Rongsokan: Sebagai Langkah Menyelamatkan Artefak

Agus Sulton

Membicarakan barang rongsokan, yaitu manuskrip atau orang pedesaan menyebutnya sebagai buku kuno pastinya setiap orang mempunyai statemen, setidaknya argumen tekstual tersendiri dalam memperlakukannya. Pihak lain ada substansi otoritas koheren dengan menjadikan manuskrip layaknya benda keramat, seolah-olah terselip teks mantra—yang bahkan bisa juga menjadikan orang impulsifitas; mempraktekkan dan memenuhi sebuah struktur ideal. Discourse masyarakat mengais ide sebagai perpanjangan pertahanan keimanan yang baru dalam kepentingan-kepentingan transendental dan keuniversalan Tuhan, mungkin juga (tentatif). Continue reading “Berburu Rongsokan: Sebagai Langkah Menyelamatkan Artefak”

Bahasa »