Sebuah Catatan dari Penerjemah

Tiya Hapitiawati * Continue reading “Ricarda Huch, Sastrawan Perempuan Jerman yang Karya-karyanya “Tenggelam” dalam Sejarah Negerinya”
Sebuah Catatan dari Penerjemah

Tiya Hapitiawati * Continue reading “Ricarda Huch, Sastrawan Perempuan Jerman yang Karya-karyanya “Tenggelam” dalam Sejarah Negerinya”

Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “DI BATAS SEBUAH KOTA”
Kurt Vonnegut
Penerjemah: Rambuana * Continue reading “BERJALAN JAUH KE SELAMANYA”
Benny Arnas
Saya percaya, tidak ada cara terbaik untuk menjadi penulis selain empat hal: banyak membaca, membaca banyak, banyak menulis, dan menulis banyak.
Bagi yang merasa selalu gagal menulis, jangan mencoba menciptakan cara kelima. Tapi, untuk menuntaskan kepenasaran perihal bagaimana si A menulis dengan baik dan si B menulis dengan baik pula dan si C menulis yang lagi-lagi baik, mengikuti kelas menulis yang diampu si A atau B atau C bisa menjadi sebuah opsi. Continue reading “AGAR KELAS MENULIS MEMBUATMU BISA MENULIS”
Amien Kamil *
Surat ini tanpa tanggal & tanpa alamat surat, mungkin saja untuk seseorang yang tanpa identitas sehingga kerap kali dilecehkan. Tanpa mengucap suluk ataupun salam, surat ini langsung menukik tanpa ba bi bu ataupun permisi, salto serta berloncatan tak beraturan. Ada suara gaduh saat ratusan keping huruf lancip yang ujungnya tajam berkilat bagai mata tombak dan kelak telak melesak pada denyut jantung mereka yang didiagnosa “telah terdeteksi epidemi polusi dosis tinggi.” Continue reading “Monolog Amien Kamil: Surat Ini Tanpa Tanggal & Alamat Surat”