http://www.kompas.com/
Sajak di Malam Hari
Angin berjelaga
Gelas yang kosong
tiba-tiba terisi cinta.
Hati bicara pada batu dan debu.
Langit selamanya biru, Continue reading “Puisi-Puisi Leo Kelana”
http://www.kompas.com/
Sajak di Malam Hari
Angin berjelaga
Gelas yang kosong
tiba-tiba terisi cinta.
Hati bicara pada batu dan debu.
Langit selamanya biru, Continue reading “Puisi-Puisi Leo Kelana”
Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/
Winston Churcil adalah salah seorang negarawan paling terkemuka yang pernah dimiliki Inggris. Churchillah yang memimpin Inggris di masa Perang Dunia II, dan di masa kepemimpinannya yang lima tahun inilah (!940-1945) yang membuat sejarah modern Inggris tak akan bisa dilepaskan dari namanya. Continue reading “Inspirator–Winston Churchill”
Theresia Purbandini
jurnalnasional.com
Babak baru dalam perkembangan kesenian di Indonesia dirintis sejak berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan sebuah institusi kebudayaan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Sejak 1968, secara resmi taman itu disahkan Ali Sadikin. Pementasan drama, pagelaran orkes simfoni, pertunjukan tari, pantomim, pameran lukisan hingga pusat dokumentasi sastra milik HB Jassin, serta diskusi kesenian ikut menyemarakkan arena tersebut. Continue reading “Menghidupkan Kembali Taman Kesenian”
Heru Kurniawan
lampungpost.com
KALAU saya menganalogikan alam semesta dan sastra sebagai dunia yang sama, itu karena di antara keduanya mempunyai paradigma yang seide, yaitu alam semesta dan sastra merupakan dunia manifestasi dari penciptanya.
Alam semesta adalah manifestasi dari “perbendaharaan Tuhan”. Sedangkan sastra adalah manifestasi “pikiran pengarang”. Dalam tradisi filosofis, alam semesta dan sastra sama merepresentasikan kejeniusan penciptanya. Continue reading “Agama, Sastra, dan Pluralitas”
Maman S Mahayana *
Sastra tidak datang dari langit. Tidak juga diturunkan para malaikat. Sastra lahir dari proses yang kompleks. Ke belakang, ada kegelisahan sastrawan dalam menyikapi situasi sosial di sekitarnya. Ke depan, ada visi tertentu yang menjadi tujuan. Pada saat karya itu terbit, ada momentum. Momentum inilah yang sering kali justru membawa karya itu menjadi monumen. Sejarah telah berbicara banyak mengenai itu. Continue reading “MOMENTUM SASTRA MONUMENTAL”