Romantisisme dalam Sastra Indonesia

Boen S. Oemarjati

A. Pengertian Romantisisme

Pengertian Romantisisme sangat aneka ragam. Mungkin, karena mengacu pada gerakan yang melawan akal, ilmu pengetahuan, otoritas, tradisi, keteraturan, dan disiplin yang mengguncang peradaban Barat akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, dan mewujud dalam pembaruan-pembaruan sosial, politik, dan moral, terutama di bidang kesenian. Continue reading “Romantisisme dalam Sastra Indonesia”

MENEGUHKAN KEINDONESIAAN, MEMULIAKAN KEBERAGAMAN:

POLITIK BAHASA DI DALAM KEMAJEMUKAN BANGSA
Djoko Saryono *

/1/
Politik dan bahasa adalah dua istilah yang sekarang dihubungkan, bahkan disenyawakan. Dua istilah itu dapat kita lihat dalam dua macam hubungan. Pertama, hubungan koordinatif atau sejajar antara politik dan bahasa. Di sini politik dan bahasa ber¬interaksi, saling mempengaruhi, dan tarik-menarik secara setara dan seimbang. Continue reading “MENEGUHKAN KEINDONESIAAN, MEMULIAKAN KEBERAGAMAN:”

Hari Puisi : Titik Balik Perspektif

Halim HD *
Kompas, 18 Agu 2013

Tak ada yang melarang jika seseorang mengoreksi, melakukan otokritik terhadap apa yang dinyatakan atau dilakukannya pada masa lampau. Justru kesadaran kepada self criticism itulah yang menjadi salah satu keunggulan manusia sebagai makhluk kebudayaan. Tanpa sikap dan cara berpikir kritis kepada diri sendiri, hanya menciptakan sejenis sikap narsisus dan akan terperangkap ke dalam sikap megalomanian. Continue reading “Hari Puisi : Titik Balik Perspektif”

Jangan Rebut Kursi Orang

Mohamad Sobary *
Koran Sindo, 24 Mar 2014

Jamal D Rahman menjadi komandan garis depan, sekaligus garis belakang dan penanggung jawab urusan dapur, bagi terbitnya sebuah buku sastra, dengan judul yang menggambarkan ungkapan positivistis, seperti cara para motivator memandang dunia: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Continue reading “Jangan Rebut Kursi Orang”

Mengenang Balai Pustaka (BP)

Bandung Mawardi *
Koran Tempo, 30 Mar 2013

Di ujung tahun 1971, Nur Sutan Iskandar mengenang Balai Pustaka. Pengarang tua ini memiliki memori panjang tentang Balai Pustaka, sejak 1919. Semula, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru di Palembang dan Padang. Lakon hidup berubah oleh sepucuk surat Sutan Mohamad Zein dari Jakarta. Isi surat menganjurkan Nur Sutan Iskandar berhenti jadi guru, berpindah ke Jakarta untuk bekerja di Balai Pustaka (Intisari, Nomor 98, September 1971). Continue reading “Mengenang Balai Pustaka (BP)”

Bahasa »