Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa

Tito Setyo Budi *
Kompas, 31 Jan 2016

Ada tiga nama besar yang tergolong pengarang anapas landhung (memiliki napas panjang, artinya mampu membuat cerita-cerita panjang) dalam sastra Jawa modern, yaitu Esmiet, Tamsir AS, dan Suparto Brata. Ketiganyalah yang secara bergantian mengisi lembar-lembar cerita bersambung di tiga majalah berbahasa Jawa terkemuka, yaitu Panjebar Semangat dan Jaya Baya (keduanya terbitan Surabaya) serta Djaka Lodang (terbitan Yogyakarta), dalam kurun waktu tiga dasawarsa, dari tahun 1960-an hingga 1980-an. Continue reading “Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa”

Teori Sastra Slavoj Zizek

Ramayda Akmal *
Kompas, 07 April 2013

Sebagai salah satu filsuf kontemporer Eropa yang terkemuka, Slavoj Zizek mulai diperbincangkan di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Namun, perbincangan itu masih sebatas dalam ranah filsafat, sementara ruang lingkup konsep teoretis Slavoj sangatlah luas. Slavoj melakukan kajian terhadap beragam obyek, seperti karya-karya filsafat, film, sastra, iklan, perang, wacana, syair lagu, dan video klip. Konsep dasar yang digunakan Slavoj untuk mengkaji beragam obyek tadi adalah konsep subyek dan tindakannya. Continue reading “Teori Sastra Slavoj Zizek”

Menuju Republik Sastra

Gerson Poyk *
Kompas, 03 Maret 2013

Beberapa tahun yang lalu, ketika HB Jassin masih hidup, dia pernah menulis bahwa sebuah pusat kebudayaan tidak perlu hanya di Jakarta, tetapi sebaiknya di daerah.

Beberapa lama kemudian, Jassin mengatakan, ”Koran-koran di daerah yang punya ruangan sastra sangat penting.” Ucapannya membuat penulis berpikir bahwa di setiap provinsi mesti ada HB Jassin baru yang mendokumentasikan semua karya penulis yang muncul di ruang sastra di setiap koran, lalu menyorot, mengkritik, dan mendidik seperti yang dialami Angkatan ’45 dan Angkatan ’66 versi Jassin. Continue reading “Menuju Republik Sastra”

Apresiasi Sastra

Mustafa Ismail *
Koran Tempo, 06 Sep 2014

Muhibah sastra ke beberapa sekolah di Aceh baru-baru ini memberi gambaran miris bagi saya. Ternyata tidak banyak siswa yang mengenal sastrawan Indonesia. Hanya sedikit yang mengenal Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bahri, Hamid Jabbar, Sitor Situmorang, KH Mustofa Bisri, dan lain-lain. Apalagi nama-nama yang lebih muda dan belum tercatat dalam buku ajar sekolah. Continue reading “Apresiasi Sastra”

Bahasa »