Marhalim Zaini *
Sejak lama, banyak orang risau—termasuk para penyairnya—bahwa puisi susah sekali “diterima” oleh publik luas. Nasib puisi, “dianggap” kerap marjinal, secara popularitas, bahkan jika dibandingkan dengan sesama genre sastra sekalipun; cerpen atau novel misalnya. Orang, terkadang, berharap puisi dapat diterima seperti diterimanya mi instan oleh semua lidah lintas usia. Espektasi terlampau besar semacam itu, dengan cara pandang (teramat) umum, kadang, membuat kita kian hari kian tak percaya lagi pada kekuatan kata-kata dalam puisi. Puisi-puisi yang terlahir kemudian pun, selalu (dan berupaya keras) untuk “didekat-dekatkan” dengan publik. Seolah, berupaya untuk membuat puisi tak berjarak dengan publik. Continue reading “Kato jadi Daging Tulang”

