Sastra dan Daya Hidup

Kuss Indarto

Dulu, saat kuliah dan tinggal di Baciro, aku mengenal Yono, seorang tukang becak yang diduga juga preman kampung. Orangnya relatif masih muda, perawakannya besar dengan tinggi sekitar 175 cm. Meski terbilang jarang, namun sesekali dia menyambangiku dan berbisik, “Mas, mbok aku nunut baca Koran KR dan Bernas-nya ya.” Aku menduga tindakan itu dilakukannya karena sepagian dia belum dapat penumpang, atau sudah dapat tapi belum tersisa “anggaran” untuk membeli Koran Kedaulatan Rakyat (KR) atau Bernas, Yogyakarta. Continue reading “Sastra dan Daya Hidup”

Kho Ping Hoo, Penulis Solo yang Terpinggirkan

Yunanto Sutyastomo

Tanggal 17 Agustus adalah hari kelahiran Kho Ping Hoo. Ia dikenal sebagai ikon pengarang cerita silat Indonesia dengan karya-karya yang sangat digemari berdekade-dekade, hingga kini. Tapi, Kho Ping Hoo juga menyimpan tragedi dalam kesastraan Indonesia. Ada kesan Kho Ping Hoo laksana aib yang harus ditutupi kesastraan Indonesia karena berbagai faktor yang membuatnya termarginalkan di dunia sastra. Kho Ping Hoo “dijajah“ oleh teori-teori dan politik kesastraan yang berakibat dia tak masuk dalam lingkup sastrawan. Continue reading “Kho Ping Hoo, Penulis Solo yang Terpinggirkan”

Bahasa »