Kritik Sastra Indonesia Kehilangan Arah?

Fadjriah Nurdiarsih
lifestyle.liputan6.com

Dasmir (50 tahun), seorang guru SMP di Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat, mempertanyakan tak adanya acuan dalam mengajarkan esai dan kritik sastra dalam kurikulum Bahasa Indonesia. Walhasil, anak-anak tak cinta dan tak suka menulis kritik dan esai. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan novel-novel berkualitas di kotanya. “Toko buku di kota kami hanya ada satu. Itu pun koleksinya terbatas sekali,” ujarnya seraya menggugat dalam acara Seminar Nasional Kritik Sastra pada 15-16 Agustus 2017 di Aula Sasadu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Rawangun. Continue reading “Kritik Sastra Indonesia Kehilangan Arah?”

Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru

Hasnan Bachtiar *

Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam nabi, supaya sejarah menjadi jinak dan mengirim sepasang merpati – Kuntowijoyo –

UPAYA susastra seorang sastrawan, adalah aktivitas sejarah. Betapapun di era kontemporer ini marak dikumandangkan karya sastra yang dianggap otonom, maka penulis sastra tidak pernah terbang dari bumi di mana ia berpijak. Continue reading “Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru”

Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus

Yohanes Sehandi *
yohanessehandi.blogspot.co.id

Tanggal 10 November 2017 ini kita mengenang 11 tahun kepergian kritikus sastra Indonesia modern Dami N. Toda. Nama lengkapnya Damianus Ndandu Toda. Dami N. Toda meninggal dunia pada 10 November 2006 di Leezen, Hamburg, Jerman pada usia 64 tahun. Lahir pada 29 September 1942 di Cewang, Todo-Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Abu jenazahnya dibawa ke Indonesia pada Oktober 2007, dengan rute perjalanan Jerman-Jakarta-Kupang-Manggarai terus ke Todo-Pongkor tempat peristirahatannya yang abadi. Continue reading “Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus”

Bahasa »