KITAB BARZANJI

Aguk Irawan MN
Kedaulatan Rakyat, 15/03/009

Sekira seratus limapuluh tahun sebelum Nabi Muhammad lahir dan membawa pencerahan, puisi telah menempati posisi tertinggi di hati orang Arab, bahkan ketika dunia masih meraba-raba dalam keremangan ilmu pengetahuan, Arab sudah berjibaku dengan puisi dan mengenal ilmu tata bahasa (linguistik), diantara fenomena tingginya penghargaan kaum arab terhadap para penyair adalah dengan menggantung puisi-puisi terbaik mereka di dinding Ka’bah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku atau ras yang mengalir pada darah mereka. Paling tidak, ada dua karya sastra penting yang ditulis sastrawan Arab Jahiliyah, yaitu mu’allaqat dan mufaddaliyat. Continue reading “KITAB BARZANJI”

Sastra, Kreativitas dan Pemicunya

Sartika Sari
http://www.analisadaily.com/

Karya sastra tidak lahir dari omong kosong belaka. Benar. Di balik kesederhanaan dan keindahannya, sebuah karya menyimpan keistimewaan yang merupakan cermin kreativitas penciptanya. Lantas, bagaimana dengan proses kreatifnya? Untuk hal yang satu ini, tentu setiap orang berbeda-beda. Mulai dari penemuan ide, penuangan, hingga pempublikasiannya. Continue reading “Sastra, Kreativitas dan Pemicunya”

Cukuplah Hanya Musailamah yang Permalukan Diri Sendiri

Jalaluddin
http://www.republika.co.id/

Musailamah termasuk salah seorang yang mendakwakan dirinya ‘nabi’, setelah wafatnya Rasululah SAW. Berbagai upaya ia lakukan guna menarik perhatian dalam menggalang dukungan dari masyarakat. Laki- laki yang ‘kebelinger’ ini tampaknya memang telah mempersiapkan diri secara matang. Karya sastra yang disusun Musailamah diketengahkannya sebagai tandingan ayat-ayat Alquran. Maksudnya, agar orang percaya, kalau dia pun mendapat wahyu, sebagaimana halnya Rasulullah SAW. Continue reading “Cukuplah Hanya Musailamah yang Permalukan Diri Sendiri”

Mengoptimalkan Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Lustantini Septiningsih
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/

Sikap hidup pragmatis dari sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai luhur budaya bangsa. Demikian pula budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal (local wisdom) yang santun, ramah, saling menghormati, arif, dan religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Continue reading “Mengoptimalkan Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa”

Bahasa ยป