http://www.lampungpost.com/
Lidah
(teringat kundang)
tubuh yang keras
pecah lekas
setiap umpat
di dalam ucap
terlanjur lupa
menghuni rahim
dan lidah selalu lembut Continue reading “Sajak-Sajak Asrina Novianti”
http://www.lampungpost.com/
Lidah
(teringat kundang)
tubuh yang keras
pecah lekas
setiap umpat
di dalam ucap
terlanjur lupa
menghuni rahim
dan lidah selalu lembut Continue reading “Sajak-Sajak Asrina Novianti”
Abdul Wachid B.S. *
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/
Antologi puisi berjudul Randezvous, yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah 2011, cukup menarik perhatian saya. Dikatakan oleh Wijang J. Riyanto bahwa: “wilayah Banyumas, Semarang, Pati dan sekitarnya, merupakan contoh sebagian wilayah yang memiliki potensi literasi puitik yang patut diperhitungkan dan dicatat.” Ini memang benar sekali, mengingat puisi menampilkan representasi, baik realitas, praktik sosial, maupun makna sosial. Referensial yang dibangun oleh bahasa setiap penyair pada aspek hakikinya adalah ruang yang memiliki entitas. Continue reading “RENDEZVOUS– Sebuah buku Antologi puisi”
Wardjito Soeharso
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/
(1)
Saya termasuk orang yang memaknai puisi dengan sederhana. Bagi saya, puisi adalah rangkaian kata-kata yang indah. Keindahan itu dapat diperoleh dengan berbagai cara: mengatur rima, irama; pemilihan kata (diksi); sampai gaya penulisan (tipografi). Prinsipnya, di mana kata-kata disusun sedemikian rupa, lalu dari susunan itu diperoleh suatu keindahan (estetika), maka susunan kata-kata itu layaklah disebut sebagai puisi. Continue reading “MEMAKNAI PUISI, SEBERAPA SUSAHKAH?”
Antologi puisi 10 KELOK DI MOUSELAND
Janoary M Wibowo
Jalanan di sini gelap dan penuh kelokan. Seperti hidup, bukan? Jika terpeleset di tikungan, pahamilah setiap luka adalah tanda kau pernah berkunjung ke Mouseland.
“You know, Michael. The worst thing in this world is to know too much. You’d better try to stay naïve. It’s much better.” kata Eli Wurman—diperankan oleh Al Pacino—dalam film People I Know. Continue reading “SELAMAT DATANG DI MOUSELAND!”
Desi Sommalia Gustina
Riau Pos, 5 Feb 2012
KITA tahu, setiap penyair memiliki lecentia poetica dalam penulisan puisi yaitu kebebasan memilih cara dan daya ungkap puisi. Untuk totalitas ekspresi terkadang penyair melakukan pelanggaran kaidah bahasa dengan tujuan mengungkapkan secara memikat dan dapat menghasilkan totalitas pengungkapan. Licentia poetica oleh Shaw (1972:291) dikatakan sebagai kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki. Continue reading “Berbincang Licentia Poetica dalam Tempurung Tengkurap”