Sajak “Kesepian” Friedrich Nietzsche

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=586

Sebelum menyusuri puisi Nietzsche yang bertitel “Kesepian” dari buku “Malam Biru Di Berlin,” terjemahan Berthold Damshauser dan Ramadhan K.H. 1989. Terlebih dahulu, aku kan kembarai kesanku padanya.

Setidaknya aku punya dua buku karangannya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Jilidannya telah rusak, yang aku rekatkan dengan memaku, tidak menggunakan lem perekat. Demikian kelakuanku pada buku-buku yang kerap kubaca sampai tercerai, aku benahi seperti tukang kursi; Sabda Zarathustra, Ecce Homo. Continue reading “Sajak “Kesepian” Friedrich Nietzsche”

Octavio Paz dan Sajak “Tetangga Jauh”

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=501

Setiap penyair mempunyai pamor tersendiri, memancarkan kharisma masing-masing, menebarkan daya pikat sekuat pencariannya menyetubuhi hidup dalam kehidupan. Mereka berjenis-jenis burung mengisi hutan belantara, memadu kicauan, kadang berbentur saing, demi telinga yang menyusuri tapakan sunyi, menuju dataran tinggi kesaksian. Continue reading “Octavio Paz dan Sajak “Tetangga Jauh””

Claude Debussy (1962-1918)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=494

Pada buku “Les Fran?ais et I?Indon?sie du XVIe au Xxe si?cle” yang disusun Bernard Dorl?ans menyebutkan, di dalam catatannya Debussy menuliskan: ?Jika anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, anda harus mengakui ialah musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.?

Dan menurut profesor lajang sampai akhir hayatnya, Gertrudes Johan Resink (1911-1997), berkabar bahwa komponis Prancis, Claude Debussy memperkenalkan nada musik Jawa ke dalam komposisi musiknya. Ini tampak terdengar jelas atas karyanya yang bertitel “La cath?drale engloutie.” Di mana nada-nada gemelan menyusup ke rulung jiwa, sedari pantulan pekerti jiwa Jawa seraya. Continue reading “Claude Debussy (1962-1918)”

Membaca “Langkah-Langkah” Sederhana Albrecht Goes

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=497

Ada sajak ditulis sederhana, tapi masih menawan digali kandungannya. Ada megah serta purna penggarapannya, sampai pesonakan mata-telinga. Tentu terketahui, dikala hari-hari diisi senandung puja nada puisi.

Tampak benar penggalian atau sekadar asal comot dari para pendahulu. Kentara pula penggurat pengekor, penjiplak atau berangkat memeras daya hidupnya, demi menelusuri di atas sejarah kehidupan. Continue reading “Membaca “Langkah-Langkah” Sederhana Albrecht Goes”

Bahasa ยป