Hasan Gauk *
Saya mulai percaya dengan adanya ilmu kebal saat kelas tiga SMK. Waktu itu, seorang kawan kena bacok di salah satu tontonan rakyat (bejanggeran). Saya gemetar sambil menangis melihat perutnya sobek, karena tidak bisa membalas orang yang membuat perut kawan saya robek, lantaran kami tidak ada persiapan apapun waktu itu, bawa pisau atau parang misalnya. Juga sebab saya tidak memiliki cukup kekuatan untuk menangkal besi-besi yang mungkin akan mengayun ke leher saya. Continue reading “Di Indonesia, tidak ada orang kebal, kecuali mereka yang berduit”



