Kisah Pangeran Segoro


Imam Nawawi *

Saya masih ingin bercerita hal-hal yang berhubungan dengan laut Madura. Siapa tahu kelak para Pemimpin Madura umumnya dan Sumenep khususnya kembali bersatu untuk menyongsong bangkit kejayaan maritim masa silam.

Hingga detik ini, pikiran saya masih terhantui oleh Buku I Master Plan Sumenep yang hingga 2028 itu. Sungguh miris imajinasinya. Seperti tak punya visi yang berpijak pada akar historis.

Kali ini saya mau membahas tentang “Saron Barung”, salah satu perangkat musik gamelan dari Madura. Tetapi, saya tidak bicara fungsinya melainkan jenis ukirannya yang berupa Ikan Terbang. Jika anda masih ingat logo Indosiar di jaman dulu, ya ikan terbang seperti itu. Namun, kepala ikan terbang tersebut adalah ular naga.

Mari saya dongengin kalian semua.

Ada sebuah negeri yang oleh para sejarawan masih diperdebatkan, apakah negeri itu sekedar dongeng atau fakta historis. Sejarawan Van der Meulen (1977) menyebutnya negeri historis, dan yang lain menyebutnya kisah negeri fiktif.

Adalah Medang Kamulan, yang dipimpin oleh Prabu Gilingwesi. Sang raja memiliki putri yang cantik bernama Dewi Bendoro Gung. Saking cantiknya, para Dewa di langit pun jatuh hati pada sang Dewi ini.

Hingga tiba satu hari, salah satu Dewa di langit, tidak disebutkan namanya, menikahi diam-diam Dewi Bendoro Gung ini, tanpa izin sang Prabu Gilingwesi. Pernikahan diam-diam itu membuahkan jabang bayi dalam rahim sang Dewi. Tentu saja Prabu marah melihat putrinya hamil tanpa izinnya.

Seorang patih dipanggil oleh Sang Prabu. Nama Patih itu Pragulang. Prabu memerintahkan Patih agar membunuh Dewi Bendoro. Perintah dilaksanakan. Sang Dewi dalam keadaan hamil dibawa ke laut menggunakan perahu rakit. Laut di sini adalah Selat Madura.

Ternyata, laut tidak berkenan membunuh. Perahu rakit itu tiba di Pulau Madura dengan Selamat. Masyarakat pada zaman itu mengartikan kata Madura sebagai “Madu” dan “Oro”. Kata “Oro” berarti Negeri. Jadi, Madura diartikan kala itu sebagai Negeri Madu.

Akhirnya, masyarakat Madura menerima kehadiran Dewi Bendoro (A)Gung dari Medang Kamulan ini, hingga lahir seorang bayi tampan yang diberi nama Raden Segoro.

Hari demi hari, Pangeran Segoro tumbuh dengan baik sebagai pendekar lautan. Di usia 3 tahun, Raden Segoro punya mainan, yakni Dua Ekor Naga Laut Berbadan Ikan Terbang. Nah, alat musik gamelan bernama “Saron Barung” itu diambil dari kisah Raden Segoro ini.
Namun, Prabu Gilingwesi bukan berarti betul-betul benci pada putri dan cucunya sendiri itu. Prabu tetap memerintah agar memantau perkembangan Pangeran Segoro secara diam-diam. Karena itulah, setelah usia 3 tahun dan Patih Pragulang merasa cukup mengajari Pangeran Segoro bermain senjata tajam, maka Dua Ular Naga Berbadan Ikan Terbang itu diubah menjadi pusaka bernama Alugoro dan Nenggolo.

Sejak usia 3 tahun, Pangeran Segoro sudah belajar memainkan senjata tajam. Setelah cukup dewasa dan layak mengabdi ke kerajaan, Patih Pragulang membawa Pangeran Segoro kembali ke Medang Kamulan sebagai prajurit biasa. Hingga tiba suatu masa di mana Kerajaan China ingin menaklukkan Medang Kamulan. Itulah momentum Pangeran Segoro tampil sebagai prajurit Medang Kamulan dari Madura, yang berhasil menaklukkan invasi China.

Jadi, kekalahan pasukan China untuk menaklukkan Jawa bukan saja sejak era Arya Wiraraja, yang ditandai dengan kebangkitan Majapahit. Tetapi, sejak era Medang Kamulan, Pangeran Segoro sudah menjadi saksi mata atas kemenangan Jawa melawan China.

Setelah berhasil mengabdi pada Medang Kamulan, Pangeran Segoro pulang ke Madura. (Ingat satu hal yang berkali-kali saya ulangi: putra Madura tidak ingin berkuasa di tanah Jawa. Bukan saja sejak Arya Wiraraja-Majapahit, melainkan sejak Pangeran Segoro-Medang Kamulan).

Setibanya di Madura, Pangeran Segoro purna tugas kemiliteran. Dia ingin menghabiskan hidup bersama keluarga. Dia selalu berkumpul bersama ibundanya, Dewi Bendoro Agung. Ada rasa rindu ingin bersama ayah kandung, yang tidak pernah dijumpai sejak kecil. Pangeran Segoro pun lalu bertanya siapa ayah kandungnya.

Dewi Bendoro Agung merasa terganggu dengan pertanyaan putranya itu. Sebab, seperti kisah Maria yang melahirkan Yesus dari Roh Kudus, atau seperti Potre Koneng yang melahirkan Joko Tole dari Roh Kudus, Dewi Bendoro Agung juga melahirkan Pangeran Segoro dari Roh Kudus. (Ingat omongan saya tempo hari di akun Facebook ini bahwa manusia Madura ini adalah keturunan para Dewa. Leluhur Madura adalah para Dewa. Ingat juga, ketika saya bilang begitu, saya dikatakan sebagai Orang Goblok dan Bodoh. Kemudian hari baru terbukti, bahwa orang yang bilang saya goblok-bodoh bukan asli Madura, bukan berdarah Sumenep, tapi cuma keturunan orang Sumenep).

Oke kita lanjut. Karena Pangeran Segoro membuat hati sang ibunda menjadi gundah gulana, maka Dewi Bendoro Agung merasa inilah saatnya, sudah tiba waktunya, ia lengser keprabon. Tanpa bicara sedikitpun, Dewi Bendoro pergi ke sebuah hutan bernama Nepa. Beliau bertapa di sana mencari kemuksaan. Sepanjang pertapaan, kera-kera di hutan Nepa menjaganya. Masyarakat sekitar meyakini bahwa kera ini adalah pasukan atau prajurit Pangeran Segoro.

Lokasi Hutan Nepa itu ada di wilayah Banyuates, 42 km ke utara Sampang.

*) Imam Nawawi, lahir di Sumenep 1989. Sempat belajar di beberapa pondok pesantren seperti PP. Assubki Mandala Sumenep, PP. Nasyatul Muta’allimin Gapura Timur Sumenep, PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, PP. Hasyim Asy’ari Bantul Yogyakarta, PK. Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta, PP. Kaliopak Bantul Yogyakarta, dan PP. Al-Qodir Sleman Yogyakarta. Kini sedang menempuh pendidikan jenjang S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *