Category Archives: Canting

Literasi Sastra Membangun Karakter Siswa

Muhlasin *
Tribun Jateng, 28 Feb 2017

Ada yang baru dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMA tahun ini. Jika tahun-tahun sebelumnya peserta menempuh enam mata uji, kali ini mereka hanya menempuh empat mata uji. Tiga mata pelajaran sebagai mata uji wajib, yakni bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris, dan satu mata uji pilihan sesuai program studinya. Sedangkan dua mata pelajaran (mapel) khas jurusan lainnya yang tidak dipilih dalam UN akan ditempuh bersama mapel lain dalam Ujian Sekolah Bersama Nasional (USBN).

Sastrawan Indonesia Banyak Berasal dari Sumbar

Darman Djamaluddin
suprizaltanjung.wordpress.com

Tidak berlebihan kalau kita mengenal satrawan-sastrawan Indonesia banyak berasal dari Minangkabau. Penulis Minang juga banyak mempengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Hal itu ditulis Darman Djamaluddin dalam sebuah artikelnya di jurnal seni online, Kuflet, sebagai catatan singkat untuk menghantarkan pengenalan negara lain terhadap Minangkabau. Tulisan itu menyusul Padang yang bakal menjadi tuan rumah Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) yang pertamakali pada tanggal 16-18 Maret mendatang. Darman sendiri, seorang sejarawan kelahiran 1955 di Jambi.

Tiga Buku Sastra Papua Diluncurkan


[Tiga buku sastra Papua masing-masing Antologi Cerpen “Aku Peluru Ketujuh” karya Teopilus B. Tebat, “Kansina Fananin,” sebuah kumpulan puisi karya Jingga Kamboja, dan “Tetesan Embun Inspirasi dari Papua” karya Aleks Giyai].
Yamoye AB
satuharapan.com 21 Mei 2017

Minimnya karya sastra Papua dinilai menjadi tantangan serius dewasa ini. Kekhawatiran muncul sering arus moderenitas yang begitu cepat sementara orang Papua masih mengidap budaya tutur.

Waktunya Menulis Esai Teater

Reporter: Ribut Wijoto
m.beritajatim.com 2 Agu 2017

SAMPAI kini, salah satu problem teater kita tetaplah pada sepinya penulisan apresiasi pementasan. Drama dipentaskan, sudah itu, selesai. Selebihnya, kesunyian.

Tidak bisa tidak, sedikitnya apresiasi membuat teater jadi marginal. Tulisan ini, secara sengaja dan terus terang, merupakan provokasi didaktis agar insan teater mau menulis esai tentang drama (baca: teater).

11 Fakta Mengenai Pramoedya Ananta Toer

Ary Cahya Utomo *
http://pelitaku.sabda.org

1. Pendidikan
Sebagai putra sulung tokoh Institut Boedi Oetomo, Pram kecil malah tidak begitu cemerlang dalam pelajaran di sekolahnya. Tiga kali tak naik kelas di Sekolah Dasar, membuat ayahnya menganggap dirinya sebagai anak bodoh. Akibatnya, setelah lulus Sekolah Dasar yang dijalaninya di bawah pengajaran keras ayahnya sendiri, sang ayah, Pak Mastoer, menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SLTP).