In Memoriam: Henriette Marianne Katoppo

Myra Sidharta *
Kompas, 28 Okt 2007

Ketika mendapat kabar bahwa Marianne pun telah menghadap Sang Pencipta-nya, saya tentu sangat terkejut. Dia adalah yang termuda dari semua teman yang meninggalkan saya dalam dua bulan terakhir ini. Kebanyakan di antara mereka adalah berusia 90 tahun lebih, yang satu lagi berusia 82 tahun dan ada juga yang 74 tahun. Marianne “baru” berusia 64 tahun, masih belia kalau dibandingkan dengan usia saya. Meskipun selisih usia kami 16 tahun, kami bisa menjadi sahabat baik karena persahabatan memang tidak mengenal usia. Continue reading “In Memoriam: Henriette Marianne Katoppo”

Utan Kayu International Literary Bienalle 2007: Si Geger Menangis, Pesta Bir Berlanjut

Chavchay Syaifullah
Media Indonesia, 26 Agus 2007
terkait: http://sastra-indonesia.com/2011/08/empat-dusta/

SEBUAH ajang yang merambah jaringannya hingga ke tingkat internasional tentu akan menjadi penting bagi publik sebuah negeri. Sebagai pembelajaran, tukar-menukar pengalaman, perigi pendidikan, dan (atau) sekadar forum unjuk kebolehan, pada efek tertentu akan memberi motivasi kuat bagi publik negeri untuk memacu dirinya dalam persaingan di tingkat internasional. Continue reading “Utan Kayu International Literary Bienalle 2007: Si Geger Menangis, Pesta Bir Berlanjut”

Sastra Penuh Siasat yang Licik

Ribut Wijoto
beritajatim.com

Sastra adalah dunia artistik, dunia keindahan, ataupun dunia estetika. Tetapi, dalam realitasnya, dunia ini digelibati beragam ketidakindahan dari para pelakunya. Ada intrik kejam dalam sastra.

Demikian salah satu pernyataan yang disampaikan Slamet Wahedi saat mengisi acara Orasi Satu Tujuan di Perpustakaan Dbuku Bibliopolis, Royal Plaza, Surabaya, Minggu (17/4/2011). “Dalam bulan April ini, kami mengambil tonggak Hari Sastra Nasional, 28 April. Nah, kami menampilkan sastrawan muda asal Madura, Slamet Wahedi,” kata penggagas Dbuku, Diana Av Sasa. Continue reading “Sastra Penuh Siasat yang Licik”

Nanang Suryadi Sang Multikultural

Yatimul Ainun

Beranda Beritajatim.com 2024

“Biar. Jika kau tak mau temani. Biar kurasakan nyeri sendiri. Di puncak sepiku sendiri”. Begitu isi penggalan bait akhir puisi berjudul Biar, dikarang Nanang Suryadi dari buku puisi yang juga berjudul Biar!.

Puisi tersebut dicipta oleh sastrawan dari Universitas Brawijaya (UB) Malang yang lahir 8 Juli 1973 di Polumerak, Serang Banten. Hadir dalam launching buku tersebut sebagai Djoko Saryono dan Yusri Fajar yang juga mengajar di Universitas Brawijaya Malang. Continue reading “Nanang Suryadi Sang Multikultural”

Bahasa ยป