Sekali Lagi, Mengolah Pengalaman

Soni Farid Maulana
pikiran-rakyat.com

ALHAMDULILLAH laman Mata Kata bisa kembali hadir ke hadapan kita semua. Dalam kesempatan kali ini, dua penyair dari Bandung (Rian Ibayana) dan Magetan (Syukur A. Mihran) mendapat kesempatan untuk tampil di halaman ini. Syukur alhamdulillah laman ini mendapatkan perhatian yang menggembirakan dari para pengirim puisi, meski hingga hari ini pihak manajemen belum bisa mengasih honorarium. Continue reading “Sekali Lagi, Mengolah Pengalaman”

Menulislah dengan Profesional

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

ALHAMDULILLAH, pada Kamis kedua, bulan Mei 2011, laman Mata Kata kembali hadir dengan menampilkan sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair Riyadhus Shalihin (Bandung), Kiki Padmowiryanto (Bandung), dan Budi Muhammad (Bandung). Ketiga penyair yang tampil kali ini menunjukkan kemampuannya masing-masing dalam mengolah pengalaman puitiknya. Continue reading “Menulislah dengan Profesional”

Warisan Tan Malaka

Yandry Kurniawan Kasim *
Kompas, 29 Maret 2008

KUNJUNGAN Harry A Poeze ke Indonesia disambut bak bangsawan oleh para pengagum Tan Malaka. Poeze berhasil menghadirkan sosok Tan Malaka di Indonesia, bahkan dunia internasional dengan utuh, lengkap, dengan berbagai romansa yang mengiringi alur kehidupannya.

Melalui berbagai karya Poeze, khalayak mengenal sosok Tan Malaka yang misterius dan/atau kegemilangan gagasan yang seolah bersemburan dari tubuh kurus, kecil, dan sakit-sakitan. Continue reading “Warisan Tan Malaka”

Menautkan Makna

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM kesempatan kali ini, laman Mata Kata kembali hadir menampilkan puisi yang ditulis oleh penyair Meitha Kartika Herdiyanti (Bogor) dan Oky Syeiful Rahmadsyah Harahap (Bandung). Masing-masing penyair menampilkan dua buah puisi, yang ditulis dengan amat sederhana, namun kaya makna. Masing-masing penyair tampil dengan gaya ucap yang berbeda satu sama lainnya. Namun demikian, Continue reading “Menautkan Makna”

Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007)

Sapardi Djoko Damono *
Kompas, 21 Okt 2007

Selasa, 9 Oktober yang lalu, Toto Sudarto Bachtiar telah mendahului kita. Untuk dunia kesusastraan, ditinggalkannya sejumlah sajak yang pada tahun 1950-an sempat dikumpulkannya dalam Suara dan Etsa, dua kumpulan sajak yang merupakan penanda penting dalam perkembangan perpuisian kita. Tulisan ringkas ini adalah upaya untuk menempatkannya dalam peta kesusastraan kita. Sampai dengan tahun 1949, perpuisian kita boleh dibilang dikuasai oleh Chairil Anwar, tentu berkat pandangan HB Jassin yang sudah sejak zaman Jepang muncul sebagai seorang dokumentator dan pengamat sastra yang rajin. Continue reading “Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007)”

Bahasa ยป