Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (II)

M.D. Atmaja

Serat Centhini (yang dapat dikatakan sebagai) adalah kitab masyarakat Jawa di dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di dalam serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 tersebut, merupakan perpaduan dari tiga pujangga keraton Surakarta, yaitu Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan oleh Ki Ngabehi Sastradipura, yang merupakan gambaran dari kehidupan dari masyarakat Jawa di dalam menjalani kehidupan. Continue reading “Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (II)”

Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)

M.D. Atmaja

Novel Cinthini sebagai (yang menurut saya merupakan) interpretasi ulang dari Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V dapat memberikan wawasan kepada generasi muda tentang karya sastra Nusantara lama (dibaca juga dengan: kuno). Novel panjang Centhini ini memberikan gambaran pada generasi muda tentang bagaimana nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam kesusastraan Indonesia Lama (Kesustraan Lama) yang saat ini sulit untuk dipahamioleh khalayak publik yang lebih luas. Continue reading “Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)”

Jejak Sang Imam

Gusriyono, Esha Tegar Putra
Padang Ekspres, 21 Des 2008

DI senja usianya, lelaki tua itu masih bersetia dengan kalam, dawat, dan kertas. Dengan penuh ketelitian ia celupkan kalam ke botol dawat, berhati-hati ia mengangkat tangannya kembali, agar dawat tak tumpah. Perlahan ia goreskan kalam yang berdawat itu ke atas kertas di depannya. Mulailah ia bersitekun menulis ajaran tasawuf yang telah melekat pada dirinya dengan aksara Arab, bukan karena buta huruf latin. Siang itu, selepas Zuhur, di sebuah Surau di tepi batang air yang jauh dari hiruk pikuk kota. Continue reading “Jejak Sang Imam”

Hari Ibu untuk Merumuskan Keindonesiaan

Maria Hartiningsih
Kompas, 22 Des 2008

HARI Ibu dalam sejarah pergerakan perempuan di Indonesia merupakan peringatan perjuangan merebut kesetaraan, keadilan, dan pembebasan perempuan yang ditandai dengan Kongres Perempuan Indonesia I. Makna itu harus dijaga untuk mengingatkan pada ancaman besar bagi keberagaman yang dijalankan melalui kontrol atas tubuh dan seksualitas perempuan. Continue reading “Hari Ibu untuk Merumuskan Keindonesiaan”

Bahasa ยป