Pembersihan Massal Sastra Indonesia di Banyumas

Abdul Aziz Rasjid

Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah perrnyataan dan pertanyaan pendek saya di facebook, 16 juni 2010 jam 20:36. Isinya sebagai berikut:

Dua tahun lalu saya menemukan catatan dokumentasi kegiatan sastra di Banyumas di tumpukan majalah toko buku loak, judulnya “Kancah Budaya Merdeka” (HORISON/O7/XXIX/66). Membaca catatan itu seperti mengantarkan saya pada geliat kegiatan sastra di Banyumas 16 tahun silam. Jalan benarkah jika dokumentasi itu saya temukan begitu kebetulan di toko buku loak? Continue reading “Pembersihan Massal Sastra Indonesia di Banyumas”

Memaknai Perang Kata Dalam Prosa

:Sebuah Catatan dari Pelangi Sastra Malang [On Stage] #8
Yesi Devisa*

Apa yang muncul dalam benak Anda jika mendengar kalimat “Perang Kata dalam Prosa”? aneh memang. Sesuatu hal yang seakan tidak pernah dibicarakan bahkan dilangsungkan. Prosa yang rata-rata berisi lebih dari kurang lebih 500 kata dibacakan dengan ekspresi dan penghayatan dalam satu forum pertemuan. Tapi, bukankah di dunia ini tidak ada lagi yang mustahil? Continue reading “Memaknai Perang Kata Dalam Prosa”

Soeman Hs: Sentuhan Dakwah dalam Karyanya

UU Hamidy *
Riau Pos, 13 Feb 2011

Kelemahan Kritik Sastra

KRITIK sastra paling kurang harus bagaikan seligi tajam bertimbal. Pada satu arah terhadap pengarang karya itu. Pengarang dapat mengetahui kebaikan dan kekurangan karyanya sehingga dia dapat membuat karya yang lebih baik. Pada arah yang satu lagi untuk para pembaca. Dari ulasan kritikus sastra, pembaca mendapat pemahaman atau apresiasi yang lebih memadai, sehingga dia dapat semakin suka membaca karya sastra. Continue reading “Soeman Hs: Sentuhan Dakwah dalam Karyanya”

Populisme Dr Cipto Mangunkusumo “Si Kromo”

Bandung Mawardi
Kompas, 12 Feb 2011

CIPTO Mangunkusumo dengan gairah melafalkan petikan puisi dari F Van Eeden: Semua manusia punya nama / tetapi semua bernama satu / Semua bernama ”aku”…. Aku adalah semua manusia.

Puisi itu dibacakan Cipto ketika dibuang ke negeri Belanda. Di sana, ia terus mengabarkan dan mengobarkan nasionalisme bersama Indische Vereeniging. Ia dijuluki Mirabeau. Continue reading “Populisme Dr Cipto Mangunkusumo “Si Kromo””

Endo Suanda: Pendokumentasian Budaya Nusantara

Khaerudin
Kompas, 2 Feb 2011

Saat produk budaya dan seni Indonesia, seperti batik dan wayang kulit, dikukuhkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, sebenarnya saat itu juga keduanya tak bisa diklaim sepenuhnya menjadi milik bangsa Indonesia. Batik dan wayang sudah menjadi milik dunia. Sayangnya, setelah pengukuhan tersebut, tetap tak banyak pengaruhnya bagi pemilik kebudayaan itu sendiri. Continue reading “Endo Suanda: Pendokumentasian Budaya Nusantara”

Bahasa »