Peluncuran Buku: Sebuah Ruang Jeda Inggit

Zulkarnain Zubairi
Lampung Post, 28 Maret 2010

Tidaklah mudah menafsir sajak-sajak Inggit Putria Marga yang terhimpun dalam Penyeret Babi (Anahata, Bandar Lampung, 2010). Puisi Penyeret Babi yang kemudian menjadi judul kumpulan sajak perdana Inggit pun menjadi sebuah ambiguitas tersendiri.

Menurut penyair Ahmad Yulden Erwin, yang menjadi pembahas bersama Iswadi Pratama dalam peluncuran buku ini di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Sabtu (27-3) malam, judul yang sebenarnya biasa saja. “Nggak aneh, tetapi menarik,” kata Erwin. Continue reading “Peluncuran Buku: Sebuah Ruang Jeda Inggit”

Makna Simbolik dalam Nyepi

Arsyad Sobby Kesuma
http://www.lampungpost.com/

Jika direnungkan, ada berbagai macam akar pemicu munculnya konflik yang terjadi di negeri ini. Dan yang tak kalah pentingnya menurut hemat saya—alasan ini justru adalah pemicu awal munculnya konflik tersebut—adalah adanya rasa ketidaksiapan umat beragama untuk hidup secara berdampingan dalam masyarakat yang multikultural. Continue reading “Makna Simbolik dalam Nyepi”

Rangkaian Gerbong Seni Rupa Lampung

Salvator Yen Joenaidy
lampungpost.com

Sebuah rangkaian kereta akan sampai di mana? Di Kotabumikah atau di Kertapatikah? Itu tergantung dari beberapa unsur, antara lain bagaimana kekuatan lokomotif sebagai faktor kunci penggeraknya. Perlu pula dicermati, diteliti, juga sejauh mana kekuatan/keeratan mata rantai penyambung di antara masing-masing gerbongnya. Apalagi jika rangkaian gerbong tersebut sudah sedemikian panjang, dengan berbagai kondisi. Ada yang per pegasnya patah, ada yang as rodanya bengkok, dan lain-lain. Yang pasti, perlu kerja ekstrakeras untuk persiapan sebelum rangkaian gerbong panjang tersebut bergerak melaju. Continue reading “Rangkaian Gerbong Seni Rupa Lampung”

Setelah mereka belajar dari peristiwa Dili

Agus Basri, Ahmad Taufik, Kelik M. Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

PENYAIR Emha Ainun Nadjib meloncat ke atas podium. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam, seakan menggambarkan suasana dukacita. Lalu, suaranya pun melengking, membacakan puisi, yang diberinya judul Nipah-Nipah.

”Nyatakanlah kebenaran, betapa pahit pun rasanya. Maka, kami duduk dan berdiri di sini, agar kami telan juga rasa pahit hati saudara-saudara kami di Banyuates, Sampang, Madura …,” teriaknya. Continue reading “Setelah mereka belajar dari peristiwa Dili”

Bahasa »