Mengemas Cerita Rakyat Jadi Buku

Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika

Seorang menteri bersama kelompok kecil menghadap raja. `’Ampun beribu ampun, Baginda. Kami datang tanpa diundang,” sang menteri bersimpuh.
`’Katakan, apa maksud kedatangan kalian,” tanya raja.
`’Kedatangan kami kemari memohon Baginda untuk memilih satu di antara dua pilihan.”
`’Pilihan apa?” raja makin tak sabar. Continue reading “Mengemas Cerita Rakyat Jadi Buku”

“Pembisik” Republika

Pamusuk Eneste
http://www.kr.co.id

BAGI PENULIS cerpen di Tanah Air, boleh dikatakan tak ada masalah dengan media cetak tempat memuatkan cerpen. Hampir setiap koran memuat cerpen pada edisi Minggunya. Koran-koran Jakarta yang memuat cerpen, antara lain, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Sinar Harapan, bahkan Warta Kota. Di luar Jakarta pun masih ada Pikiran Rakyat (Bandung), Suara Merdeka (Semarang), Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi (Yogyakarta), Bali Post (Denpasar), untuk menyebut beberapa nama media cetak. Jadi, begitu banyak pilihan! Persoalan tinggal pada si cerpenis: layak muat atau tidak karyanya. Tentu setiap media cetak memiliki kriteria tersendiri dalam menyeleksi cerpen yang masuk. Continue reading ““Pembisik” Republika”

Era Gagap Sastra bagi Akademisi

TANGGAPAN TULISAN ABDUL WACHID BS
Anton Suparyanto
http://www.kr.co.id/

DERASNYA Industri penerbitan buku-buku sastra akhir-akhir ini menimbulkan satu gejala pemikiran negatif. Berhura-hura untuk menghantam pengarang melaju tanpa kritik dengan dalih kritikus sastra kita sudah mati (?) justru telah berupaya membunuh iklim keutuhan berkesusastraan secara sehat. Ini menjadi pikiran kerdil, gagap untuk menyimak wawasan bersastra dengan cara ucap atau dengan media yang baru. Inikah gejala ewuh-aya bagi pengarang (sastra), pemerhati, ataupun pengamat sastra Indonesia yang paling mutakhir? Continue reading “Era Gagap Sastra bagi Akademisi”

Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario

Raudal Tanjung Banua *
kr.co.id

SELAIN maraknya ruang publikasi dan bergairahnya penerbitan buku-buku sastra, fenomena apalagi yang menarik dalam geliat sastra tanah air kini? Jawabnya mudah: lomba atau sayembara!

Ya, meski lomba penulisan satra sebenarnya bukan marak sekarang saja. Sudah tradisi, kata orang. Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 50-an misalnya, biasa memberi penghargaan kepada karya sastra terbaik, seperti yang diterima Mochtar Lubis atas novelnya Jalan Tak Ada Ujung, atau Toha Mohtar atas novel Pulang. Majalah Horison juga memilih karya-karya terbaik yang pernah dimuat, misalnya, puisi “Wirid Menyambut Fajar” karya Ikranagara. Continue reading “Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario”

Kaisar yang Tidak Pernah Berkepala Besar

Santy Novaria
http://sosbud.kompasiana.com/

Saat itu, saya masih tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Batam yang di komandoi mbak Nurul F. Huda. Siapa yang tidak kenal sosok Ibu yang ramah ini..??? Kalau anda ?predator? buku, pasti tau, setidaknya pernah mendengar namanya. Kami (FLP) kedatangan tamu Agung waktu itu. Ya, saya katakan Tamu Agung karena, mbak Nurul saja sampai terkaget – kaget melihatnya, menurut curhatannya sendiri. Continue reading “Kaisar yang Tidak Pernah Berkepala Besar”

Bahasa ยป