Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario

Raudal Tanjung Banua*

http://www.kr.co.id/

SELAIN maraknya ruang publikasi dan bergairahnya penerbitan buku-buku sastra, fenomena apalagi yang menarik dalam geliat sastra tanah air kini? Jawabnya mudah: lomba atau sayembara!

Ya, meski lomba penulisan satra sebenarnya bukan marak sekarang saja. Sudah tradisi, kata orang. Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 50-an misalnya, biasa memberi penghargaan kepada karya sastra terbaik, seperti yang diterima Mochtar Lubis atas novelnya Jalan Tak Ada Ujung, atau Toha Mohtar atas novel Pulang. Majalah Horison juga memilih karya-karya terbaik yang pernah dimuat, misalnya, puisi ?Wirid Menyambut Fajar? karya Ikranagara.

Faisal Baraas menerima penghargaan serupa dari Majalah Sastra. Naskah Mega, Mega Arifin C Noer, mendapat penghargaan dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.

Meski bukan lomba secara harfiah (dalam arti tidak terikat syarat teknis suatu lomba), penghargaan itu tetap berurusan dengan penjurian. Tradisi ini terus berjalan, sebagaimana dilakukan Yayasan Buku Utama yang antara lain memberi penghargaan kepada Ahmad Tohari (Kubah), D Zawawi Imron (Bulan Tertusuk Lalang), Acep Zamzam Noor (Di Luar Kata), dst.

Ada pula Khatulistiwa Award, bagi buku terbaik yang terbit dalam satu tahun, berhadiah hampir Rp 100 juta, plus jalan-jalan ke luar negeri. Antara lain diberikan kepada Sajak Lengkap Goenawan Mohamad (yang kontroversi), Selendang Merah Kirmizi (Remy Silado) dan Bibir Dalam Pispot (Hamsad Rangkuti). Atau ajang Cerpen Terbaik Kompas (antara lain memunculkan Joni Ariadinata), yang berlanjut sampai kini meski menuai kritik di sana-sini. Ada penghargaan Sastra Lontar, salah satu penerimanya Gus tf Sakai atas bukunya Perempuan Buta dan Kemilau Cahaya. Di daerah, ada penghargaan Rancage, besutan Ajip Rosidi, tidak hanya menilai sastra Sunda, juga sastra Jawa dan Bali. Agak jauh dari gegap-gempita, adalah penghargaan Sih Award bagi puisi terbaik yang pernah dimuat Jurnal Puisi, yang antara lain pernah diterima Joko Pinurbo dan Ulfatin CH.

Sedangkan lomba secara harfiah, bisa dirunut bagaimana Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) konsisten menggulirkan bola. Banyak sudah nama yang muncul dari sini. Belum lagi lomba yang diadakan majalah remaja dan wanita seperti Kartini, Hai, Gadis, dll. Gus tf dan Kurnia Effendi misalnya, pada awalnya, justru muncul dari ranah kreatif semacam ini. Pada tahun 90-an, ketika kantong-kantong sastra marak di berbagai daerah, lomba-lomba yang diadakan komunitas ikut menyumbang tradisi ini. Sanggar Minum Kopi (Bali), termasuk paling gencar dan sempat menjadi barometer lomba, meski tidak ada hadiah uangnya. Faktor juri (yang antara lain melibatkan Umbu Landu dan Frans Nadjira) serta kontinuitas pelaksanaannya, konon, mendorong penyair ramai-ramai ikut serta. Hasilnya, buku-buku tipis dalam cetak sederhana (semacam katalog) dan memang dijadikan katalog lomba baca puisi se-Bali dan NTB. Ada pula komunitas Taraju Padang, HP3N Batu, Yayasan Gunungan Magelang (salah satu aktivisnya penyair ES Wibowo) yang pernah mengadakan Borobudur Award — sayang, cukup sekali sudah itu mati.

Menariknya, lomba-lomba sekarang, di samping memperebutkan segepok uang, juga ada jaminan jalan lintas ke sastra Indonesia. Fenomena kemunculan Ayu Utami misalnya, sering dijadikan contoh soal dalam hal ini. Sudahlah karya yang menang dapat hadiah besar, popularitas melambung, dan diterbitkan pula menjadi buku! Penjualan pun biasanya laris manis, maklum sudah ada promosi luar biasa. Siapa tak tergiur?

Terlepas dari itu, yang jelas lomba dan sayembara termasuk event paling positif dan kompetitif. Di tengah macetnya institusi kritik sastra, tak ada salahnya berkarya sambil berlomba, meski tetap ada jargon ?keputusan juri mutlak, mengikat, tak boleh diganggu-gugat?, tentu saja!

***

ANDA tergiur? Nah, kebetulan bulan-bulan terakhir ini boleh dikatakan bulan penuh lomba. Di samping lomba menulis naskah monolog bertema anti budaya korupsi yang diadakan Butet Kartaredjasa dan Lephen Purwadihardja, yang baru saja berakhir tanggal 15 Juni, kini sederet lomba lagi menanti. Jadi jangan khawatir.

Yang terdekat adalah lomba puisi Krakatau Award, Dewan Kesenian Lampung. Puisi harus memuat sesuatu tentang Lampung (budaya, tradisi, alam atau manusianya). Dikirim rangkap empat, 1,5 spasi, maksimal tiga puisi, ke Panitia Krakatau Award 2004, Jl Majapahit No 18, Kompleks GOR Saburai, Bandar Lampung 35118. Hadiah Rp 500.000 sampai Rp 1 juta menanti Anda. Tapi ingat, batas waktu 25 Juni (mungkin sudah lewat saat info ini dimuat!)

Kalau ini juga lewat, tak usah khawatir. Ada lomba cerpen ?Festival Kreativitas Pemuda? 2004 yang diadakan Creative Writting Institute (CWI) dan Depdiknas. Tema bebas, panjang 4-5 kuarto, 1,5 spasi, rangkap empat, sertakan disket, KTP dan foto diri; boleh mengirim lebih dari satu karya, selambatnya 30 Juli, ke Direktorat Kepemudaan, Depdiknas, Gedung E Lantai 6, Jl Jend Sudirman, Senayan, Jakarta 10270. Hadiah totalnya Rp 10 juta, plus diundang ke Jakarta untuk mengikuti workshop.

Berikutnya, Sayembara Menulis Cerpen Majalah Horison, dalam rangka ultah ke-38, memperebutkan Anugerah Horison 2004. Syarat-syarat teknisnya sama dengan lomba yang diadakan CWI di atas, paling lambat 30 Juli 2004 ke: Majalah Sastra Horison, Jl Galur Sari II No 54 Utan Kayu Selatan Jakarta Timur 13120. Juri memilih satu cerpen pemenang dari 15 cerpen terbaik, sebagai penerima Anugerah Horison, hadiahnya Rp 15 juta dan penyerahannya di Balikpapan, dalam acara penutupan program SBSB. Sayang, bagi cerpen terbaik tidak disebutkan hadiahnya, atau mungkin tidak ada. Kurang adil, ya?

Tak mau ketinggalan, DKJ mengadakan Lomba Kritik Sastra 2004. Tulisan harus membicarakan satu atau sejumlah karya sastrawan Indonesia yang terbit dalam bentuk buku (puisi, cerpen, novel dan drama) yang terbit sesudah tahun 2000 (bukan cetak ulang). Belum pernah dipublikasikan secara utuh, mungkin sekadar nukilan bolehlah. Panjang antara 15-25 kuarto, 1,5 spasi (di luar daftar pustaka, kalau ada), rangkap lima, paling lambat 9 Agustus 2004, ke Dewan Kesenian Jakarta, Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, 10330. Hadiah antara Rp 2 – 4 juta, dan pemenang satu jadi pembicara pada simposium kritik seni DKJ, Oktober, di TIM Jakarta. Tiga naskah pemenang dan tujuh naskah nominasi akan dibukukan.

Sastra remaja ikut bergairah. Adalah Forum Lingkar Pena (FLP) yang konsern dengan sastra remaja Islami mengadakan lomba cerpen dan novel Islami 2004 sekaligus. Usia pelomba maksimal 35 tahun (sertakan KTP!), mungkin karena ini lomba sastra remaja? Baik cerpen maupun novel, temanya bebas, kuarto, 1,5 spasi, disket, rangkap tiga dan alamat kirimnya sama: Rumah Cahaya, Jl Keadilan Raya No 13 Depok Timur 16418. Bedanya, panjang cerpen 6-12 halaman, 30 Agustus; sedangkan novel minimal 100 halaman, sampai 4 Oktober 2004.

Yang berminat di skenario, ada Lomba Naskah Skenario Film Cerita besutan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Naskah 100-120 menit, atau minimal 75 halaman, rangkap dua, disket, jangan telat dari 1 Agustus, ke: Sekretariat Program Film Kompetitif, Gedung Sapta Pesona, lt 21, Jl Medan Merdeka Barat 17 Jakarta. Total hadiah Rp 95.500.000. Nah, selamat berlomba sambil berkarya, atau berkarya sambil berlomba!

*) Koordinator Rumahlebah Yogyakarta.