Lampion Sastra: Serat “Centini” dan Sastra Erotis

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Tak ada yang pernah kuno dalam sebuah budaya. Satu lagi, serat warisan Nusantara, Centhini, telah mendampingi I La Galigo dalam pelayaran epos-epos abadi di dunia.

Serat yang aslinya bernama Suluk Tambangraras-Amongraga ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada dalam khasanah Sastra Jawa Klasik karya bersama dari Raden Sutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II, dan Raden Ngabehi Sastradipura. Continue reading “Lampion Sastra: Serat “Centini” dan Sastra Erotis”

Tragedi Lapindo Dalam Lukisan

Heru CN
http://www.tempointeraktif.com/

Ribuan orang berkubang dalam lumpur. Wajahnya mengekspresikan kemarahan. Sabit dan cangkul diacungkan ke udara. Di awan, dua malaikat membentang kain, mengartikulasikan kemarahan mereka. Karena tambang eksplorasimu, semua ini terjadi. Sejarah, budaya, kenangan & ekonomi kami hancur & lenyap. Bayar lunas tanah, rumah, semua warga Porong Sidoarjo yang tenggelam, dengan adil?, begitu tetulis pada kain yang dibentang dua malaikat itu. Continue reading “Tragedi Lapindo Dalam Lukisan”

Goenawan Mohamad dan “Manifes Kebudayaan”: The Manifesto is Dead?

Choirotun Chisaan*
http://www.facebook.com/note.php?note_id=124351734697

Ada sesuatu mengganggu dalam benak dan pikiran saya ketika membaca catatan pinggir Goenawan Mohamad bertajuk “Untuk Boediono: Sebuah Titipan dari Sebuah Gedung Bersejarah” (Tempo, No. 3818/18-24/5/2009). Tulisan itu berisi pernyataan sikap Goenawan secara terbuka kepada masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan bahasa “kami”, Goenawan mendukung keputusan politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kini menjadi calon presiden dari Partai Demokrat) memilih Boediono sebagai calon wakil presidennya. Continue reading “Goenawan Mohamad dan “Manifes Kebudayaan”: The Manifesto is Dead?”

Bahasa ยป