Menonjolkan Kearifan Lokal dalam Kebudayaan Global

Festival Teater Remaja 2010

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Setelah 6 tahun ditinggalkan begitu saja, festival teater remaja (FTR) yang sebelumnya rutin dilangsungkan setiap tahun kini dihidupkan kembali. Pemunculan kembali festival teater kali ini, yang menurut rencana akan digelar Nopember mendatang di Gedung Kesenian Jakarta, akan menampilkan beberapa perubahan baru. Perubahan tersebut didominasi dengan keinginan menonjolkan kearifan lokal dalam kebudayaan global. Continue reading “Menonjolkan Kearifan Lokal dalam Kebudayaan Global”

Upaya Meyakini Seni Rupa Kontemporer dari Kompetisi

Diskusi Indonesia Art Award (AIA)

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Meskipun seni rupa kontemporer berkembang pesat di beberapa negara di dunia, termasuk di Indonesia, namun belum ada teori yang pasti apa yang dimaksud dengan seni rupa kontemporer.

Diakui pengamat senirupa Jim Supangkat kepada Suara Karya, bahwa perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia sama saja dengan perkembangan seni rupa kontenporer di dunia. Namun, lanjutnya, di seluruh dunia masih bertanya-tanya, seni rupa kontemporer itu apa? Continue reading “Upaya Meyakini Seni Rupa Kontemporer dari Kompetisi”

Pelukis Prof. Dr. H. Amri Yahya: Batik Bukan Milik Kita Lagi

Bambang Soebendo
sinarharapan.co.id

Sesudah kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan, apa lagi yang hilang dari kekayaan milik kita? Pasti banyak yang tidak percaya bahwa batik sudah bukan milik kita sejak beberapa tahun lalu. Batik sekarang hak patennya dimiliki oleh Malaysia.

“Padahal dunia luar sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa batik adalah milik bangsa Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Inodnesia mengenal seni batik. Ini merupakan kesalahan kita sendiri, karena kita kurang menghargai apa yang disebut hak paten,” kata pelukis batik dan juga pendidik Prof. Dr. H. Amri Yahya kepada SH baru-baru di Yogyakarta. Continue reading “Pelukis Prof. Dr. H. Amri Yahya: Batik Bukan Milik Kita Lagi”

Melacak Inspirasi Basoeki Abdullah

Ibnu Rusydi
tempointeraktif.com

Basoeki Abdullah. Nama depannya memakai “oe”, ejaan lama Van Ophuijsen, sementara nama belakangnya menggunakan ejaan Soewandi. Seperti ejaan namanya, sang maestro lukis melintasi, serta dekat dengan, dua pemimpin besar Indonesia yang berbeda arah, Soekarno dan Soeharto.

Ia memang keturunan priyayi. Kakeknya tokoh pergerakan, Dr Wahidin Sudirohusodo. Ayahnya adalah Abdullah Surio Subroto, pelukis naturalis sekaligus penari. Dari ayahnya, ia mulai mengenal seni melukis. Sejak balita, Basoeki sudah mulai mencoreti kertas dan kanvas. Ibunya, Raden Ajeng Sukarsih, kerabat Kasunanan Solo. Continue reading “Melacak Inspirasi Basoeki Abdullah”

Yudhistira, Ajari Kami Tentang Kejujuran

Rakhmat Giryadi

Carikan satu saja, pemimpin yang jujur! Satu saja, tidak perlu 2, 3, atau lebih. Kalau ada, tolong sarankan dia tidak masuk dalam ranah kekuasaan. Tetapi tahukah Anda, betapa sulitnya mencari pemimpin yang jujur! Apalagi adil! Jangankan dua, satu saja kita sulit sekali mendapatkannya. Meski dapat, tak lama kemudian tiba-tiba ia terlibat atau dilibatkan skandal. Continue reading “Yudhistira, Ajari Kami Tentang Kejujuran”

Bahasa ยป