Eumenides

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

KITA kira-kira tahu dari mana datangnya hukum, tapi tahukah kita dari mana datangnya keadilan?

Hukum memang dimaksudkan sebagai aktualisasi dari “rasa keadilan”. Kata “rasa” di sini sebenarnya lebih dekat ke arah “kesadaran”. Dengan catatan: kesadaran akan keadilan itu tak hanya sebuah produk kognitif, hasil proses pengetahuan, melainkan juga tumbuh melalui proses penghayatan. Dengan kata lain, sebagai aktualisasi, hukum adalah ibarat realisasi dari hasrat yang kita sebut “rasa keadilan” itu. Continue reading “Eumenides”

Usinara

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

ALKISAH, seekor burung deruk yang luka terbang, panik, ketakutan, dan putus asa. Di belakangnya seekor lang memburu. Terdesak, deruk itu pun menerobos masuk lewat sebuah tingkap, dan terjatuh di sebuah bilik yang lengang.

Di ruang puri itu, Raja Usinara sedang duduk, membaca, hanya ditemani dua orang abdi. Continue reading “Usinara”

Sepatu

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

2x 2 = 4. Hitungan itu jelas. Tapi di tengah-tengah demonstrasi mahasiswa di tahun 1965-1966, penyair Taufiq Ismail menulis, “2 x 2 mudah-mudalan sama dengan 4.” Hampir seperempat abad berlalu sesudah itu. Kita mulai lupa bahwa sebuah arimatik sederhana bisa menjadi tidak sederhana. Kebenaran yang bersahaja pernah bisa menjadi meragukan, tapi kita tak bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Continue reading “Sepatu”

Abangan

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pada suatu saat di abad ke-19, seorang sastrawan Jawa bertanya gelisah kepada dirinya sendiri: lebih berat ke manakah hatiku, ke Allah atau ke Ratu?

Untuk beberapa lama ia tak bisa menjawab. Tapi akhirnya ia, seperti tertulis dalam kitab Wedatama, me-nentukan sikap: dalam soal bot Allah apa gusti, kese-tia-annya tertuju lebih kepada ia yang bertakhta di bumi. -“Allah” bukan pilihan pertama. Continue reading “Abangan”

Percakapan

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Dua orang duduk berdekatan. Dalam lakon Menunggu Godot Samuel Beckket ini mereka berbicara:

Gogo: Lalu apa?

Didi: Ah! Kita akan bercakap-cakap! (mereka pun saling mendekat, sampai sekitar 10 kaki). Yah, kurang pelan, mungkin. Begitulah jalannya. Continue reading “Percakapan”

Bahasa ยป