Jakarta, 10 September 2004

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

– sepucuk surat untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati, yang ditinggalkan ayah mereka.

Kelak, ketika umur kalian 17 tahun, kalian mungkin baru akan bisa membaca surat ini, yang ditulis oleh seorang yang tak kalian kenal, tiga hari setelah ayahmu meninggalkan kita semua secara tiba-tiba, ketika kalian belum mengerti kenapa begitu banyak orang berkabung dan hari jadi muram. Kelak kalian mungkin hanya akan melihat foto di sebuah majalah tua: ribuan lilin dinyalakan dari dekat dan jauh, dan mudah-mudahan akan tahu bahwa tiap lilin adalah semacam doa: “Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini, biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menangkap gelap.” Continue reading “Jakarta, 10 September 2004”

Maharaja

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada sebuah dongeng Hans Christian Andersen yang sering dikutip sepotong tapi kemudian dilupakan, tentang seorang maharaja yang amat sibuk dengan satu cita-cita: berdandan bagus. Yang dipikirkannya hanya bagaimana berkereta sepanjang jalan, memperlihatkan pakaian model terakhir.

Syahdan, dua orang penipu datang menawari sang maharaja seperangkat busana yang lain dari yang lain: terbuat dari kain yang ditenun dari serat ajaib, begitu halus, hingga hanya dapat dilihat oleh mereka yang pintar dan yang layak berkedudukan. Continue reading “Maharaja”

Yang-Lain

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna. Continue reading “Yang-Lain”

Usia Tua Menampakan Kegilaan

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

PAK Raden masih berjalan tegak bagaikan tokoh dalam film boneka Si Unyil. Dia ulet menampik keuzuran. Berapa umurnya? Kita tak tahu. Kubur mungkin sudah harus digali tapi Pak Raden masih meneruskan joggingnya ke masa depan bagaikan tengah mengikuti Proklamathon. Barangkali dia memang alpa akan proses menua. Barangkali juga ia bisa disebut “orang yang tak tahu diri.” Tapi dia bisa juga dipuji sebagai orang yang bersyukur. Continue reading “Usia Tua Menampakan Kegilaan”

B.O.

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

POTRET yang tertinggal dari awal abad ke-20 itu menggambarkan Mas Wahidin Sudirohusodo seakan-akan bagian dari Jawa yang lembek. Atau jinak. Ia tak tampak cakrak, dengan kepala bangga. Ia malah terkesan mengambil postur seorang yang sopan sekali. Tak ada kumis yang perkasa. Blangkon di kepalanya tampak ditimpa waktu. Continue reading “B.O.”

Bahasa ยป