Ompung dan Si Pematung

Martin Aleida

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya. Continue reading “Ompung dan Si Pematung”

BOLONG DAN ARYO SUSOGOL

HL Renjis Magalah

Daunan desa tampak mengering menjelmakan musim waktu itu. Penduduk desa berbondong membawa ratusan tampah tempat sajian tradisi Slametan turun-temurun sejak dulu jaman nenek moyang desa Pucangro meminta perlindungan dan berkah dari yang maha kuasa. Tabuh suara kentongan dan bedug ukuran 80 centimeter beriringan menghidupkan suasana waktu upacara Slametan. Semua hewan bangun dari tidur siangnya dan terdiam dari aktivitas mereka. Lamongan adalah satu dari sekian banyak kabupaten di Indonesia yang hidup dengan puluhan kearifan. Kepiting raksasa, Makam luhur, Tari-tarian, Sedekah bumi sampai lautan bening menghiasi kota. Continue reading “BOLONG DAN ARYO SUSOGOL”

Bai She Jing

Lan Fang
Jawa Pos, 10 Juli 2011

TIK tak tik tak….

Jam sudah menunjukkan pukul 23.24. Jarum jam terdengar seperti jantung yang berdetak. Perempuan itu berdiri, bergerak untuk meluruskan bahu dan punggungnya. Tetapi baru sedikit bergerak saja, sudah terdengar bunyi bergemeretak, suara yang sangat nyaring sampai menyaingi detak jantung jam, seakan-akan tubuhnya sudah amat renta. Continue reading “Bai She Jing”

Gerhana Mata

Djenar Maesa Ayu
Kompas, 05/20/2007

Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Continue reading “Gerhana Mata”

Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian

Martin Aleida

Sudah enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling.

Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat yang lalu. Continue reading “Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian”

Bahasa »