Ikhaui

Muhammad Harya Ramdhoni
http://www.seputar-indonesia.com/

Sekawanan anjing membaung. Suaranya menerobos pekatnya malam. Baungnya menantang langit pekat kelam. Tiada bintang sebuah pun di atas sana. Rembulan jua seolah enggan pancarkan sinarnya. Digantikan semarak cahaya ribuan lampu damar menerangi suasana.

Malam ini malam keramat. Malam di mana para dewa menuntut haknya selaku pelindung negeri pegunungan Sekala Bghaii. Malam ini malam ketujuh di bulan Waisak. Malam di mana pemujaan terhadap para dewa penguasa kahyangan dan arwah leluhur penghuni puncak gunung Pesagiiii dikumandangkan dengan khidmat di seluruh Tanah Bumi Sekala Bgha. Continue reading “Ikhaui”

Gambar Mei

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

IA yang meramalkan kematian keluarganya. Pertama ia menggambar ayahnya dan adiknya, kemudian ibunya. Usianya masih empat belas saat itu. Entah mengapa, suatu pagi, seolah dikejar keperluan mendesak, ia mencari-cari pensil dan kertas. Lalu, di atas kertas itu, dengan sangat cepat dan tanpa kedipan mata, ia menggambar sebuah kapal. Kapal itu berlayar di atas lautan luas. Dari dek kapal itu, ayahnya jatuh ke laut. Continue reading “Gambar Mei”

Sepasang Mata Kelabu

Anton Kurnia
Koran Tempo 02/02/03

Aku hanya memiliki ingatan samar-samar tentang kabut yang menyelimuti minggu itu. Saat itu aku baru saja genap enam tahun. Telepon berdering. Ayahku bergegas mengangkatnya. Ia tak berbicara sepatah pun, tapi tampak begitu tegang, darah seolah membeku di wajahnya. Ayahku masuk ke dalam kamar dan segera kudengar ibuku mulai menjerit-jerit. Telepon itu mulai berdering dan terus berdering. Rumah kami terus dipenuhi oleh para karip kerabat dan ibuku terus menerus menjerit. Orang-orang bergerak tanpa arah, wajah mereka tampak sedih. Continue reading “Sepasang Mata Kelabu”

Ketika Gerimis Jatuh

Sapardi Djoko Damono *
Koran Tempo 11/05/03

Gadis kecil itu berpikir begini, nanti kalau ayah pulang kehujanan, kasihan. Tadi lupa bawa payung. Ia sendiri di rumah, seperti biasa. Pembantu bertugas mencuci dan menyeterika, selesai itu pulang-sesudah, tentu saja menyiapkan makan untuknya. Gadis kecil itu biasa dipanggil Rini. Lengkapnya, Satyarini Endah Kurnianingrum. Biasanya beberapa temannya di sekeliling rumahnya suka bermain macam-macam karena orang tuanya Rini suka membelikannya mainan, mulai dari alat masak-memasak sampai mobil-mobilan, meskipun dia anak perempuan. Continue reading “Ketika Gerimis Jatuh”

Pesan Kepergian

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

KENAPA kau pergi, Guru. Bukankah pengetahuanmu belum genap kucecap. Ke mana engkau menjejakkan tapak. Tak ada tilasmu untuk kutuju, selain segenggam kenang atas seluruh kehilangan. Tak kau berikan tanda pun sasmita untuk sebuah perpisahan purna. Sepertinya engkau lupa telah mengasuhku sejak mengada. Continue reading “Pesan Kepergian”

Bahasa ยป