Penyair Tua dan Tali Sepatunya

Muhammad Yasir

Seribu kaki dari Jembatan Merah, Surabaya, rumah sederhana dari batu bata dan kayu beratap seng berwarna perak, tampak berkilauan dari kejauhan seperti berbilah pisau yang sengaja diampar di tepi pantai. Rumah sederhana itu milik seorang lelaki tua berumur menjelang 75 tahun. Tidaklah orang kebanyakan, bahkan tetangganya sekali pun tahu bahwa dia adalah seorang penyair yang begitu santai dan penuh pertimbangan dalam hidupnya. Dia tinggal seorang diri di rumah sederhana itu – maksudku, anak dan istrinya lebih cepat mati. Hampir sepanjang hari, dia akan duduk di ruangan pengabdiannya; ruangan yang diisi beberapa rak buku, lampu baca, sebuah mesin tik tua, dan sepasang sepatu kulit berwarna cokelat muda tanpa tali. Continue reading “Penyair Tua dan Tali Sepatunya”

Suara 2

Taufik Ikram Jamil
Kompas, 4 Agu 2014

Mata saya sudah tersangkut di ufuk timur, tempat bulan purnama penuh akan memperlihatkan wajahnya yang awal. Begitu saja ingin saya rebahkan penat pada cahaya merah kesumba, membiarkan angin mempermainkan keinginan saya untuk malam. Kedatangan istri saya bersama Kiki—anak kami–yang segera melosor duduk di sebelah kanan, kemudian menujukan pandangan pada titik yang sama dengan penglihatan saya, terasa menambah daya saya untuk menyegerakan purnama. Genggaman istri saya di pergelangan tangan seperti menyatukan harapan kami bahwa purnama malam ini harus berhasil, harus terjadi. Continue reading “Suara 2”

Selembar Daun

A. Muttaqin
Koran Tempo, 4 Agu 2013

DAUN ini, entah daun apa—bentuknya bergerigi dan gerigi itu masih seperti beranak-pinak lagi, seperti kombinasi daun sakun, pepaya dan daun ganja—yang entah jatuh dari ranting mana, memintaku jadi pohon. Suatu sore, di jalan pulang, tepat di sisi kelokan yang menghubungkkan langgar, pasar krempyeng, pos ronda dan klinik bersalin, daun itu tiba-tiba bangkit dari tanah dan menghadang langkahku. Continue reading “Selembar Daun”

Bahasa »