Malam, Sebuah Kota

Raudal Tanjung Banua
suaramerdeka.com

LARUT malam. Ia terus berjalan, membiarkan dirinya hanyut dalam arus pikiran. Kota begitu lengang. Sesekali, ada raan lewat dengan mesin menggema, lalu kendaraan lewat dengan mesin menggema, lalu lenyap dengan cahaya melesat. Pohon asam yang berjejer sepanjang jalan tampak bagai raksasa mengenakan mantel kebesarannya. Continue reading “Malam, Sebuah Kota”

INCEST

Saut Situmorang

(Di sebuah kamar hotel di pinggir Danau Toba. Menjelang subuh. Awal 1990an.)

“Jadi” dia kawin dengan saudara laki lakinya lalu diusir dari negerinya lalu berpisah dari saudara laki lakinya itu lalu kawin dengan anak laki lakinya?
Hm.

Bukan main.
Hm. Bukan main.
Luar biasa.
Hm. Luar biasa. Continue reading “INCEST”

Ziarah

Sanie B. Kuncoro *
jawapos.co.id

APAKAH yang akan kita temukan pada sebuah ziarah?

Pada masa kecilku dulu, nenek selalu mengunjungi beberapa makam pada sebuah bulan tertentu. Makam-makam itu terbuat dari batu granit berbentuk tapal kuda, dengan gundukan tanah berumput di bagian tengah. Bongpay, demikianlah bangunan makam itu disebut. Di bagian depan, semacam altar, terpasang batu nisan terbuat dari marmer dengan tulisan China. Berbaris menurun huruf China itu, tak kupahami satu huruf pun. Continue reading “Ziarah”

RONTAAN TANAH IBU

Sabrank Suparno *

Surat-surat luapan keluh

Ayah… Bunda.., kalian tau gak! Sekarang aku bagaimana? dan ada di mana? Dalam kembara rantauku, jauuuh sekali. Mengelanai ruang-ruang hampa. Ahirnya aku sampai di suatu tempat yang tak bernama. Tempat ini sunyi, pengap, pekat, sesak, berdinding plasma yang buntu, tak bercerca, tak berjendela. Berjuta tahun aku disini sendirian. Sepi… Ayah… aku takut.! Kian hari kian mencekam Bunda…! Continue reading “RONTAAN TANAH IBU”

Malina dalam Bus Tua

Yetti A.KA *
jawapos.com

Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula tujuannya.

Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. Udara cukup dingin, digesernya kaca jendela sampai rapat. Tas warna hitam yang mengembung ia letakkan di antara kedua kaki. Continue reading “Malina dalam Bus Tua”

Bahasa »