Nol: Angka—Manusia

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

I.
Saya sungguh tak pernah berbohong. Tak pernah menyebut satu sebagai dua. Dua sebagai tiga. Atau sebagai lainnya. Sebab saya yakin bahwa satu adalah satu, dua adalah dua. Tak boleh diganti-ganti. Saya juga tak pernah menyebutkan lima tambah lima sama dengan lima kali dua meski sama-sama sepuluh hasilnya. Sebab saya tahu keduanya tak sama: beda struktur aljabarnya. Seperti itulah saya, yang tidak pernah berbohong. Continue reading “Nol: Angka—Manusia”

Kematian Matali

Mashuri

Matali bunuh diri! Peristiwa itu langsung menggemparkan kampung Gombalmukiyo. Kampung ini termasuk kampung kecil yang terletak di pinggiran kota, dikelilingi parit kecil, dipenuhi tanaman hijau nan perdu; kampung yang oleh media massa disebut sebagai kampung tempat orang menghilangkan penat karena udara masih murni dan suasananya bisa membuat orang bahagia. Continue reading “Kematian Matali”

Saudara Jauh

Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Rama Dira J
Suara Merdeka, 21 Maret 2010

KAMI berjalan di sepanjang Jalan Valikonagi, menikmati malam musim semi yang sejuk. Pertunangan kami baru saja diresmikan; kami sedang mabuk dan dalam semangat yang tinggi. Kami baru saja ke Fuaye, restoran mewah baru di Nisantasi; saat makan malam bersama orangtuaku, kami membicarakan panjang lebar segala persiapan pesta pertunangan yang dijadwalkan pertengahan Juni. Continue reading “Saudara Jauh”

Kafe Bagus di St Michel

Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

KEMUDIAN cuaca memburuk. Itu bakal berlangsung pada suatu hari ketika musim gugur berlalu. Mau tak mau kita harus menutup jendela-jendela pada malam hari untuk menghalau hujan dan dingin angin yang akan merontokkan dedaunan dari pohon-pohon di Contrescarpe. Daun-daun berserakan basah di tengah hujan dan angin membawa hujan ke arah bus hijau besar di terminal dan Kafe des Amateurs sudah penuh sesak dan jendela-jendela atasnya berkabut karena udara panas dan asap di dalam. Continue reading “Kafe Bagus di St Michel”

Gokma

Hasan Al Banna
http://suaramerdeka.com/

ANAK-ANAK tangga berderak. Langkahnya menyerah pada dakian ketiga. Tinggal dua tatih lagi, tapi ia harus menata engah napas. Menyibak urai rambut yang kusut. Ya, tatapan yang nanar musti dibeningkan lagi. Sebab, pintu belakang rumah panggung di hadapannya, sekonyong-konyong oleng, memunculkan bayangan yang kacau. Ia lantas meraba bundar perut dengan putaran tapak tangan. Perutnya terasa kian padat dan berat. Sesekali menyesakkan dada, kadang kali mendesak-desak jauh ke bawah pusar. Sambil mengatur alur napas, perempuan itu menyabit belukar peluh ?yang tumbuh di dahi dan leher? dengan lengkung jemarinya. Continue reading “Gokma”

Bahasa ยป