Babi dalam Dompet

A. Rodhi Murtadho *

Dompet lengket di saku celana. Babi terus mendengkur. Paijan terus berjalan dari rumah ke rumah. Sales. Bukan kerja yang sembarangan. Tak semua orang bisa menekuni profesi ini. Paling tidak harus punya mulut yang kuat bicara. Lidah yang pandai bersilat. Tatapan mata meyakinkan. Bau badan tidak kecut. Baju rapi. Sepatu mengkilat. Senyum menawan dengan gigi putih dan bau nafas tidak apek. Potongan klimis biasanya ikut mendukung. Continue reading “Babi dalam Dompet”

H a n t u

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

KETIKA aku datang kali pertama di dusun itu, rumahnya bobrok ditumbuhi kebun nanas yang sulit dijangkau manusia. Rimbun pohon bambu dengan ujung-ujungnya yang menyentuh tanah menggelikan aku. Bahwa ini bukan tempat yang cocok buatku. Bila malam hari lampu teplok berbinar melawan bintang atau bulan yang terhalang. Continue reading “H a n t u”

SUARA

Yetti A. KA
jawapos.com

Suara itu terus menggeram, setiap pagi, sepanjang siang, serupa bulu ulat menancap di sekujur tubuh; menempel di kulit, rambut, mata, telinga, jempol kaki, hidung, atau bibir, dan dia masih bisa berkata, ”Itu hanya suara ayam. Kenapa kau begitu risau.” Continue reading “SUARA”

A R O K

Benny Benke
kompas.com

DI tanah lapang, di tempat yang telah dijanjikan, pada waktu yang telah ditentukan, dengan kebencian di jantung sisi kanan dan dendam di jantung sisi kiri, Ametung, yang parasnya mulai berkerut melantangkan serak kesumat ke langit. Berseolah lawan tandingnya, Arok, berada di depannya. Dengan angkara tak tertahan, menderas hujan menusuk wajah serta petir menjilat-jilat, menggelegar, tak terhiraukan lagi. Ametung menghunjamkan tombak ke bumi, bersimpuh kemudian mengacungkan keris ke langit. Sejurus kemudian dia menumpahkan kesumpekan, menyerapah dan mengutuk, menerjang-nerjang, meraung-raung? Continue reading “A R O K”

Bahasa »