Bintang Bethlehem

Danarto
http://www.jawapos.com/

Di sebuah bukit kapur yang di sana sini ditumbuhi pohon kurma di Kota Jericho, Palestina, tiga orang anak tampak menghentikan permainannya secara mendadak yang semula ketiganya saling berkejaran. Ketiga anak itu, masing-masing sekitar 12 tahun usianya, menatap ke angkasa. Ada sesuatu di langit yang terlalu menarik untuk tidak diperhatikan. Sebuah benda yang luar biasa besarnya, persis bongkahan batu raksasa, warna emas dibalut oranye, sedang melayang pelan dari arah timur menuju ke barat. Sebuah bongkahan cahaya yang lebih cemerlang daripada sinar matahari. Continue reading “Bintang Bethlehem”

Dokter

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo:
Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award 2007

Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. Continue reading “Dokter”

Kebun

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun.. Dalam rangka memerangi pemanasan global. Ibunya setuju.

?Untuk apa lapangan badminton, dipakai main juga tidak pernah. Mau jadi juara All England, hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!? katanya sinis. Continue reading “Kebun”

Orang Kampung

Joni Ariadinata

WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap. Continue reading “Orang Kampung”

Dia Ingin Membunuhku

Teguh Winarsho AS
kr.co.id

DIA melukaiku lagi. Dengan belati. Dia hunjamkan ke dadaku berkali-kali. Aku meradang. Merintih kesakitan. Aku sekarat, hampir mati. Lalu, aku pergi meninggalkan dia. Meninggalkan senyum manisnya yang menipu. Meninggalkan kerling matanya yang tajam ingin membunuhku. Tapi dia terus membuntutiku dengan belati. Aku bingung. Ke mana aku harus sembunyi? Aku sering merasa putus asa dan ingin bunuh diri. Memotong urat nadi. Atau menjerat leher dengan tali. Continue reading “Dia Ingin Membunuhku”

Bahasa »