Merdeka

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Di penghujung 2007 Amat bingung. Apakah kemerdekaan sebuah kemenangan. Apakah kemenangan sebuah kebahagiaan. Kalau ya, mengapa dalam kemerdekaan dan kemenangan, masih ada derita? Makin marak kemiskinan? Bahkan bencana , permusuhan, kekacauan, kerancauan kebenaran, ketidakadilan dan kejatuhan moral kian edhan-edhanan? Continue reading “Merdeka”

Saya

AS. Sumbawi

Bus kota yang sesak dengan penumpang ini pun memperlambat lajunya setelah dua orang perempuan berpakaian pramuniaga sebuah toko yang berdiri dekat pintu depan memberi isyarat untuk turun. Perlahan Saya merangsek maju. Dan ketika bus kota berhenti di depan sebuah mall, Saya sudah berada di belakang mereka berdua. Bersiap turun pula. Continue reading “Saya”

Pahlawan

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Setelah membaca berita, Amat termenung sehari penuh. Makannya kurang. Suaranya hilang. Ia tidak membalas senyum, walau pun Bu Amat sudah cengar-cengir mengajak berbaikan setelah semalam agak tegang. Bahkan ketika tetangga mengundangnya untuk makan duren, ia menolak.

Bu Amat lalu mendesak Ami, mencari tahu apa yang sedang menggondeli pikiran Amat. Dengan segan-segan Ami menghampiri bapaknya dan langsung saja menembak. Continue reading “Pahlawan”

Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri?

Joni Ariadinata
Lampung Post 04/03/2002

Segelas racun babi mengepul di atas meja. Asap kretek melenggok dari mulut menuju petromaks, membentuk gulungan hening. Abah Marta merapatkan handuk dari sergapan dingin di leher dengan gigi gemerotak. Di balik jaket berkaos tebal tersembunyi dada kering kerempeng mengatur desahan napas. Tersengal-sengal karena penyakit asma. Terengah-engah menimbulkan bunyi mirip pompa air mekanik. Mencengik. Mata keriputnya memicing, menatap Wardoyo menantunya yang tengah mempermainkan asap. Ragu-ragu. Berganti-ganti dengan fokus gelas racun menantang di meja. Suara dengkuran menembus gorden pintu di belakangnya; kamar Ambu Marsinah tidur. Ada kemerosak angin. Ada kemerosak bambu-bambu bergesekan di luar. Continue reading “Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri?”

Sepi

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Ketika ayahnya meninggal, Merdeka mendapat inspirasi.

?Papa adalah orang yang praktis dan realistis. Ia seorang yang bijaksana, luhur budi pekertinya dan ekonomis. Ia pasti tidak suka segala bentuk kemubaziran, termasuk yang menyangkut jasadnya sendiri,? kata Merdeka menimbang-nimbang. Continue reading “Sepi”

Bahasa ยป