Bayang-Bayang Wajah

Ahmad Zaini *

Kabut pagi belum mengering. Padahal sinar matahari sudah mulai menghangatkan tubuh. Tapi toh begitu, bening air telaga sudah mulai menguap tersengat oleh hangat sinarnya. Kumparan waktu menyeretku berkeliling di tepian telaga. Riak-riak kecil menggiring ikan-ikan berkecipak di permukaannya. Sebatang pohon mangga menyapaku saat aku duduk di bawahnya. Daun kuningnya membelai wajahku yang muram memikirkan lembaran hari yang tiada menentu. Continue reading “Bayang-Bayang Wajah”

Tepi Jalan Ahmad Yani

Salamet Wahedi *
Surabaya post, 6 Feb 2010

Gadis itu menggigit-gigit kuku jari telunjuknya dengan gigi depannya. Sapuan matanya menyisakan nanar keruh. Air mukanya pun menampak riak berdebu. Raut belia itu tambah kusam saja saat butir debu yang diterbangkan mobil-mobil di depannya lengket di wajahnya. Kulit wajahnya begitu berminyak. Seperti bentangan kanvas lusuh, wajahnya sekilas menguar panorama senja. Namun, kerling retinanya menegaskan usianya yang masih di bawah dua puluh tahun. Continue reading “Tepi Jalan Ahmad Yani”

DAGING SAMPIL

Ahmad Zaini*

Seekor sapi dijagal di halaman masjid. Puluhan orang bahu-membahu agar sapi yang berbadan gemuk dan liar ini dapat dijinakkan. Ada yang membuat kolongan tambang untuk menjebak kaki sapi. Ada juga yang menarik tambang yang mencocok hidung sapi. Jika salah satu kaki sapi masuk ke dalam kolong tambang maka mereka pun serentak menyeretnya sampai sapi terjatuh dan benar-benar terlentang persis di lubang pemotongan. Continue reading “DAGING SAMPIL”

Gulita

Eko Darmoko

Seratus tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah penantian.

Pada tahun 1900 sebuah koran terbitan Nederlandsch Indie telah mengabarkan tentang gejalah alam yang aneh. Yakni suatu saat nanti bumi akan dihimpit oleh tiga matahari yang datang dari galaksi lain. Jadi kelak bumi akan mempunyai empat matahari. Dan dapat dipastikan temperatur bumi akan sangat panas, selain itu yang lebih parah lagi adalah bahwa di bumi tidak akan terjadi malam, yang hadir hanya siang saja. Continue reading “Gulita”

Lelaki yang Kehilangan Senja

Dody Kristianto*

Denyut kota tiba-tiba mendadak hitam. Kota berubah dengan alir mati mengikut alur dari cerita seorang pengarang yang memotong senja. Ya, semenjak senja dipotongnya, tanganku tak lagi mampu membedakan mana kanan dan kiri. Mataku sering kali ketakutan, mengintip mataku sendiri. Serta bayanganku, yang acapkali terlepas kabur diburu oleh jejak kegelapan. Aneh, bukankh bayang-byangku sendiri adalah representasi dari kegelapan? Continue reading “Lelaki yang Kehilangan Senja”

Bahasa ยป