SENI DAN REVOLUSI

Nurel Javissyarqi

Seni ditentukan oleh masanya (Albert Camus). Kita ketahui ada seni musik, tari, karawitan, pedalangan, perdagangan pun berperang. Seni belah diri, melukis, pahat, drama, penulisan, percintaan, politik, mengajar, dan masih banyak lagi.

Seni menelusup ke segenap bidang, dicipta orang-orang berbakat, yang istikomah dalam menjalani pilihannya. Lalu kita mengambil, mengangkatnya sebagai ilmu. Continue reading “SENI DAN REVOLUSI”

KRITIK “SAKIT” SASTRA INDONESIA

Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008
Liza Wahyuninto

Pada tahun 1950, beberapa ahli sastra beranggapan bahwa kesusastraan mengalami kemunduran. Salah satu tokoh yang berpandangan bahwa kesusastraan Indonesia mengalami kemunduran adalah Sujadmoko. Dalam esainya yang berjudul Mengapa Konfrontasi, Sujadmoko melihat adanya krisis sastra akibat adanya krisis kepemimpinan politik. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sastra Indonesia mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpen-cerpen kecil yang menceritakan psikologisme semata-mata. Continue reading “KRITIK “SAKIT” SASTRA INDONESIA”

Revolusi Diam Kaum Muda

Hudan Hidayat

Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: Indonesia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak” bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat Indonesia karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya. Continue reading “Revolusi Diam Kaum Muda”

Bahasa »