Antropologi dalam Dunia Koreographer

Restoe Prawironegoro Ibrahim
http://www.suarakarya-online.com/

Kini seni telah mengalami demistifikasi. Seni tidak lagi sebagai sesuatu yang adiluhung, ia mengalami pembedaan dan larut dalam kehidupan keseharian juga. Daya transendensinya terserap habis oleh kenyataan-kenyataan diluar dirinya. Setelah zaman romantik, seni harus terus menerus mengubah prinsip-prinsip dan substansinya untuk menahan dan menyesuaikan diri dengan berbagai kemungkinan yang lahir bersamaan perkembangan zaman ini, termasuk kekuatan-kekuatan yang progresif, yakni kekuatan tekhno-ekonomi. Continue reading “Antropologi dalam Dunia Koreographer”

Integritas dan Jalan Hidup Intelektual

Muhammad Al-Fayyadl*
http://www.jawapos.com/

Menjadi intelektual di zaman yang penuh dengan godaan anti-intelektualisme tidaklah mudah. Menjadi intelektual berarti terlibat dalam persoalan-persoalan yang melingkupi lingkungan sekitar tanpa kehilangan integritas dan keotentikan. Persoalannya kemudian, mungkinkah mengambil posisi yang demikian saat ini?

Gempuran budaya populer yang dibawa oleh teknologi dan perkembangan audio-visual membawa konsekuensi yang tak terelakkan bagi pergeseran dunia pemikiran dewasa ini. Continue reading “Integritas dan Jalan Hidup Intelektual”

Refleksi Akhir Tahun Membaca Pembuka Budaya Baru

Matroni el-Moezany
http://cetak.kompas.com/

Kompleksitas budaya: perlu adanya reinterpretasi ulang dengan pelibatan subyek, obyek, dan predikat, bahkan keterangan sekaligus. Sebelum sampai pada interpretasi ke sana, setidaknya dalam ilmu kebudayaan di Indonesia ada dua cara untuk kontemplasi.

Dalam ranah membaca, merasa, dan menghayati kebudayaan, yakni pertama, dengan teori dalam sistematisasi rasional dan filsafat seni budaya. Kedua, Continue reading “Refleksi Akhir Tahun Membaca Pembuka Budaya Baru”

Menggali Mutiara di Antara Politik Estetika

Sastra Indonesia 2007
Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Di tengah politik perkubuan sastra, baik yang menyentuh persoalan intrinsik maupun ekstrinsik dari teks sastra atau bahkan mengarah pada kelompok atau sastrawan tertentu, kegemilangan sebuah karya akan terlihat dengan sendirinya.

Lonceng sastra terus digemakan oleh kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan novel atau bahkan sebuah esai di lembaran kertas di media cetak maupun bentangan flat dari monitor CPU lewat sebuah situs maupun milis. Continue reading “Menggali Mutiara di Antara Politik Estetika”

MAKNA KEMERDEKAAN DALAM SASTRA

W Haryanto*
http://www.surabayapost.co.id/

Taufiq Ikram Jamil, secara lantang pernah berujar, ?Riau perlu merdeka, karena pusat telah mengekploitasi kekayaan wilayah ini? (dalam diskusi di TIM, 2004), pada saat yang sama, Sutardji Ch Bachri menimpali, ??.yang diperlukan Riau bukan kemerdekaan politik, tetapi sastra Riau yang harus merdeka.? Makna ?merdeka? selalu relevan dan aktual dalam perjalanan budaya kita, bahkan setelah ?nasionalisme? kita mengalami pelbagai kendala, benturan, tafsir, juga deformasi. Continue reading “MAKNA KEMERDEKAAN DALAM SASTRA”