
Binhad Nurrohmat * Continue reading “KENAPA NIETZSCHE?”
KEPRIBADIAN TERCERAHKAN DALAM DUNIA YANG BERUBAH
Djoko Saryono *
Kita memang tidak harus menjadi insan cendekia atau cendekiawan sebagaimana dituntut Benda, Gramsci, Dhakidae, dan lain-lain. Tapi, agaknya, kita perlu menarik substansi ciri atau tanda manusia insan cendekia ke dalam diri dan hidup kita. Dengan kata lain, kita perlu membatinkan dan menghayatkan berbagai ciri atau tanda manusia insan cendekia menjadi kepribadian kita – Continue reading “KEPRIBADIAN TERCERAHKAN DALAM DUNIA YANG BERUBAH”
“SONET-SONET” SAPARDI DJOKO DAMONO
: KESETIAAN ATAS SEBUAH PILIHAN

[Ibnu Wahyudi bersama Sapardi Djoko Damono, tiga tahun lalu]
Ibnu Wahyudi * Continue reading ““SONET-SONET” SAPARDI DJOKO DAMONO”
Sang Mistikus Kini Telah Pulang
Kepada Sapardi Djoko Damono

Matroni Musèrang * Continue reading “Sang Mistikus Kini Telah Pulang”
SASTRA DIASPOR(-IK/-IS)
Djoko Saryono *
Mari kita “bermain-main” dengan kata diaspora, yang diadopsi dari kosa kata diaspora dalam bahasa Inggris. Kata diaspora sudah menjadi satu satu lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang artinya sudah menjadi salah satu kosa kata bahasa Indonesia. Dalam KKBI, kata diaspora hanya disangkutkan dengan dunia politik, dan dimaknai sebagai “masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya bangsa Yahudi sebelum negara Israel berdiri pada tahun 1948”. Continue reading “SASTRA DIASPOR(-IK/-IS)”
