Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi

Putu Fajar Arcana, Aryo Wisanggeni G
Kompas, 24 April 2011

PANGGUNG berupa balkon yang dibangun dari kayu, cerobong asap, dan sebuah sel sempit dilumuri warna merah. Seseorang berlari lalu mengibaskan bendera di ketinggian. Musik yang juga sayup-sayup berasa merah mengalir….

Itulah adegan pembuka Tan Malaka, Opera 3 Babak yang dipentaskan Sabtu (23/4) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Opera karya Goenawan Mohamad dalam rangka 40 tahun majalah berita mingguan Tempo, itu akan dipentaskan kembali Minggu (24/4) malam. Baca selengkapnya “Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi”

Peluru Olyrinson

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 1 Mei 2011

PELURU? Ya, betul. Empat belas barang tajam Olyrinson (baca: cerpen) telah keluar dari patrunnya, menyatu dalam Sebutir Peluru dalam Buku (Palagan Press, 2011). Ibarat peluru, kini cerpen-cerpen itu siap dilepaskan kembali untuk meneror pembaca.

Betapa tidak? Di samping hampir semuanya pernah memenangi lomba/sayembara penulisan cerpen (dari 14 cerpen, hanya 3 cerpen yang tidak memenangi lomba), oleh banyak pihak, cerpen-cerpen Olyrinson itu diakui memiliki sentuhan humanisme yang menusuk hati. Baca selengkapnya “Peluru Olyrinson”

Jiwa yang Diberkahi

(Tanggapan atas Puisi Puisi Nancy Meinintha Brahmana)
Beni Setia
Suara Karya, 7 Mei 2011

SEKITAR tiga tahun lalu, saya mendapat satu kumpulan cerpen unik dari seorang kawan. Sebuah Biola Tanda Cinta (tp, Surabaya, Maret, 2008). Antoloji bersama dengan dua belas cerpen dari dua belas penulis, di mana yang dua merupakan cerpen yang ditulis khusus untuk merayakan antoloji itu, sedang sepuluh cerpen lainnya telah dipublikasikan di majalah GAYa NUSANTA. Meskipun begitu: kesemuaan cerpen itu nyaris merupakan representasi rekaan yang bertolak dari pengalaman otentik eksistensialistik sebagai orang yang dimarjinalkan karena ketaknyamanan identitas, jiwa wanita dalam tubuh lelaki. Baca selengkapnya “Jiwa yang Diberkahi”