Sajak Sahaya Sengaja Bersahaja

Zen Hae
http://korantempo.com/

M. AAN MANSYUR (semoga Allah memuliakan namanya) adalah satu dari sedikit penyair muda usia yang layak dibicarakan. Ia telah menerbitkan tiga buku, yaitu kumpulan sajak Hujan Rintih-Rintih (2005) dan novel Perempuan, Rumah Kenangan (2007), dan kumpulan sajak Aku Hendak Pindah Rumah (Nala Cipta Litera, Makassar, 2008), yang dibicarakan dalam tulisan ini. Sajak-sajaknya, terutama dalam buku terbarunya, adalah seperangkat upaya yang cukup menjanjikan: sepenggal jawaban atas problematika persajakan Indonesia mutakhir. Continue reading “Sajak Sahaya Sengaja Bersahaja”

Sastra Seksual dalam Masyarakat Epigon

Budi P Hatees*
http://www.infoanda.com/Republika

Ihwal tubuh menjadi pembicaraan serius di kalangan intelektual sastra akhir-akhir ini. Di satu sisi ada pandangan yang mengatakan kehadiran seks dalam karya sastra sebagai suatu keharusan, karena seks merupakan representasi kesadaran manusia tentang diri atau tubuhnya; seks adalah penegasan identitas diri dan eksistensi. Continue reading “Sastra Seksual dalam Masyarakat Epigon”

Menggugat ?Cabul? dalam Sastra

Herman RN
http://sosbud.kompasiana.com/

Pembicaraan sastra ?cabul? atau ?satra kelamin? sebenarnya sudah lama heboh di Jakarta sejak beberapa karya sastra yang ditulis oleh sastrawan kekinian kerap mendeskripsikan adegan esek-esek. Bahkan, soal sastra cabul atau ada pula yang menamakannya dengan ?sastra kelamin? sempat membuat kalangan sastrawan nasional saling tuding. Sebut saja di antaranya karya-karya Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Hudan Hidayat, Eka Kurniawan, dan beberapa ?penjaga Komunitas Utan Kayu? yang suka melahirkan cerita-cerita nyentrik. Namun, lambat laun persoalan itu hening seperti ditiup angin. Bahkan, saat ini permasalahan tersebut terkesan mati atau tak dipedulikan lagi. Continue reading “Menggugat ?Cabul? dalam Sastra”

Belajar Sastra, Awas Porno…

Igk Tribana*
http://www.balipost.co.id/

Guru selalu mengingatkan muridnya ketika pakaian anak didiknya melanggar aturan sekolah, lebih-lebih yang mengarah ke penampilan yang kurang sopan — penampilan seksi. Ambil contoh, pelajar putri sengaja memendekkan ukuran rok dan bajunya demi ikut trend. Karena pengaruh film remaja yang menggunakan anak sekolah sebagai objeknya, tampaknya para pelajar selalu ingin “gaul” sehingga muncul kecenderungan meniru model penampilan para idolanya itu. Continue reading “Belajar Sastra, Awas Porno…”

NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI*

Maman S. Mahayana**
http://mahayana-mahadewa.com/

Fakta adalah realitas yang terjadi dalam kehidupan ini. Sastra coba mengangkat realitas itu tidak sebagaimana adanya. Ia telah mengalami proses pemilahan dan pemilihan, seleksi dan rekayasa. Maka, realitas dalam sastra adalah fiksional. Ia seolah-olah realitas an sich. Padahal sesungguhnya realitas itu hanya berlaku dalam karya itu sendiri. Tak ada hubungan wajib pembaca mempercayainya atau tidak. Ia bebas diperlakukan apa saja. Sastra jadinya bagai bangunan yang bahan-bahannya dapat kita kenali berdasarkan fakta yang pernah atau mungkin terjadi. Continue reading “NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI*”