Rendra, Puisi Pamflet, dan Gairah

Moh. Samsul Arifin
http://www.jawapos.com/

”Rendra tak pernah takut pada kekuasaan, termasuk tank dan panser, yang coba menundukkan akal sehatnya.”

DI manakah tempat kritik dalam ke?penyairan Willibrodus Surendra Broto Rendra yang dipanggil Tuhan pada 7 Agustus lalu (Senin besok 40 harinya)? Ja?wabnya, pada bentuk dan muatan puisi-puisinya. ”…Saya sang?si apa ini (sa?jak-sajak Rendra) bisa di?sebut puisi? Sajak Rendra demikian keras sehingga ka?dar puisinya tu?run,” ujar Dick Hartoko (saat itu pe?mimpin BASIS) setelah Si Burung Merak tampil di Sport Hall Kri?do?sono, Jogjakarta, Desember 1978. Continue reading “Rendra, Puisi Pamflet, dan Gairah”

Dongeng, Teater Kearifan di Kepala

Indra Tranggono
jawapos.com

DONGENG telah memukau kita sejak anak-anak hingga masa tua. Kita ingat ketika kakek-nenek atau ayah-ibu bercerita tentang Timun Emas, Kancil Nyolong Timun, Buto Ijo, Sangkuriang, dan lainnya. Melalui narasi-narasi lisan itu, kita diajak memasuki jagat petualangan yang indah. Kita pun dapat mengenali berbagai watak tokoh. Saking menariknya watak mereka, tokoh-tokoh itu seperti benar-benar ada dan begitu dekat dengan kita. Bahkan, hingga hari ini mereka masih ngendon da?lam pita ingatan kita. Continue reading “Dongeng, Teater Kearifan di Kepala”

Ganyang-mengganyang

A.S. Laksana *
jawapos.com

When you got nothing, you got nothing to lose.- Bob Dylan

MUNGKIN kita diam-diam memiliki bayangan yang bersifat kuliner tentang Malaysia; mungkin negeri jiran itu tampak di mata kita sebagai seekor kambing muda –atau cempe menurut lidah orang Jawa– sehingga setiap kali kita terganggu oleh tabiatnya kita buru-buru ingin mengganyangnya. Niat pertama untuk mengganyang si cempe muncul tahun 1963 dan disuarakan sendiri oleh Presiden Soekarno dalam cara yang, tentu saja, sangat menggelora. Continue reading “Ganyang-mengganyang”

Menjelang Subuh

Liza Wahyuninto
http://id-id.facebook.com/kaka.wahyuninto.liza

Ini bukan mengenai siapa saya
Bukan pula mengenai siapa kamu
Kita juga tidak sedang membicarakan siapa saja mereka
Percayalah,
Aku tidak sedang memanah rembulan
Belum ingin menatap kedua matamu yang menawan itu
Jangan pula menyodorkan tangan yang nantinya aku takkan segan untuk meremasnya
Bukan maksudku untuk menghujat atau mengkritik dirimu Continue reading “Menjelang Subuh”

Bahasa ยป