Laman Penyair Gila: Perpaduan Teknologi dan Keindahan Kata*

Mahmud Jauhari Ali

Pernahkah Anda mengunjungi sebuah laman berisi sejumlah pengetahuan tentang jagad alam sastra, khusunya puisi dengan rangkaian diksi yang menawan hati kita untuk membacanya? Mungkin di antara kita pernah menemukan laman-laman yang saya maksud itu. Kemudian kita unduh bagian-bagian penting dari laman tersebut untuk keperluan hidup kita. Bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra misalnya, tentulah untuk keperluan tugas-tugas kuliah dan penyusunan skirpsi atau hanya untuk memuaskan batin guna memperkaya jiwa mereka. Mungkin pula sebagian dari kita tidak pernah menemukan laman-laman tersebut. Continue reading “Laman Penyair Gila: Perpaduan Teknologi dan Keindahan Kata*”

Bertuhan secara Puitis

Zen Rachmat Sugito *
jawapos.com

Umar bin Khattab, seorang prajurit hebat nan perkasa, sewaktu mendengar lantunan Alquran yang dibacakan putrinya, langsung luluh dan membaca syahadat saat itu juga.

Modus kepindahan agama seperti Umar banyak terjadi dalam Islam. Dalam tradisi Islam, pengalaman keagamaan yang dipantik oleh pengalaman estetik mendapatkan tempat secara lapang, yang dimungkinkan pada keistimewaan Alquran sebagai kitab suci dengan pencapaian kualitas literer yang agung. Continue reading “Bertuhan secara Puitis”

Wong Jawa

Bandung Mawardi
http://www.jawapos.com/

“Siapa saja yang ingin menjadi wong Jawa harus membaca dan menulis.” Kalimat dengan pesan imperatif ini disampaikan secara kalem oleh Suparto Brata dalam diskusi Wong Jawa Ilang Jawane di Solo pada 14 Juni 2008. Laku membaca dan menulis diklaim Suparto sebagai pengalaman jadi wong Jawa. Ungkapan relasional tentang wong Jawa dengan tradisi membaca dan menulis memang cukup mencengangkan pada hari ini, ketika sekian orang sibuk mencari definisi, memerkarakan identitas hibrida atau tafsir klise tentang takdir kekuasaan Jawa. Continue reading “Wong Jawa”

Lim Keng

Henri Nurcahyo *
jawapos.com

Kalau toh belum ada lukisan sketsa yang harganya melebihi lukisan nonsketsa, jangan dikira segepok uang mampu membeli lukisan Lim Keng.

Di negeri ini, pelukis yang setia dengan lukisan sketsa jumlahnya amat sangat sedikit. Dari jumlah itu, tidak ada satu pun yang sanggup menandingi Lim Keng. Jebolan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Jogja angkatan 1962 itu melukis dengan cara yang tidak biasa. Bukan dengan pena atau kuas, melainkan dengan mulut bekas botol cuka yang berisi tinta. Continue reading “Lim Keng”

Bahasa ยป