Menggairahkan Sastra di Kudus

Zakki Amali
ttp://cetak.kompas.com/

Waktu terus berlari, siapa pun yang tidak mampu mengimbangi laju waktu akan tertinggal. Tertinggal oleh waktu akan menjadikan manusia sebagai obyek, bukan subyek. Padahal, untuk dapat survive, manusia harus menjadi subyek atas waktu, mengelola dan mengolah waktu agar harapan tercapai. Paradigma inilah yang akan menggairahkan kembali kehidupan sastra di Kudus. Continue reading “Menggairahkan Sastra di Kudus”

Pantun dan Pencerahan Budaya Melayu

Leon Agusta *
Harian Republika

Inilah kami. Kami ada dan mengada di Negeri Pantun, Kota Gurindam. Di negeri kami telah lahir Raja Ali Haji, pendekar gurindam yang melegenda. Juga, Raja Mantara, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri. Suaranya serak nyaring menggelegar di panggung-panggung para penyair dunia dan nusantara.

Kami juga punya Raja Pantun, Tengku Nasyaruddin S Effendy, terkenal sebagai Tenas Effendy, yang telah menulis sekitar 65 buku tentang bahasa, seni dan budaya serta sejarah Melayu, 45 naskah ceramah dan diskusi. Ia Doktor Honorus Causa Universitas Kebangsaan Malaysia. Continue reading “Pantun dan Pencerahan Budaya Melayu”

Buku Driyarkara, Sebuah Tonggak Baru Proses Pencerahan

Erwin Edhi Prasetya
http://www2.kompas.com/

Homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesamanya. Kalimat itu dikenal luas sebagai ajaran pokok Driyarkara (1913-1967), seorang filsuf yang asli Indonesia.

Dalam setiap periode sejarah, manusia memang bisa menemukan dimensi kemanusiaan baru, tetapi sekaligus juga bisa kehilangan aspek-aspek tertentu dari kemanusiaannya. Manusia bisa kehilangan empati terhadap sesama lebih-lebih yang menderita, kehilangan sikap toleran ketika berhadapan dengan perbedaan, kehilangan kepekaan mengenai manusia dan lebih cenderung pada kekerasan. Continue reading “Buku Driyarkara, Sebuah Tonggak Baru Proses Pencerahan”

Pengarusutamaan Teks Mbeling

(2007 untuk Peta-2008 untuk Berkarya)

Endri Y
http://www.lampungpost.com/

MENCERMATI kegelisahan, proses mencari kekuatan karakter “kedirian” yang bebas, independen, dan terlepas dari kemelekatan-kemelekatan. Mengingatkan kita pada tuntutan dan “pengadilan puisi”-nya Slamet Kirnanto yang diselenggarakan di Bandung pada 8 September 1984. Hanya sebuah kenyelenehan dan kengawuran, tetapi sayangnya, tidak lucu! Continue reading “Pengarusutamaan Teks Mbeling”

Buku Fiksi: Ramai Pembaca Sepi Pembaptis?

Donny Anggoro *
sinarharapan.co.id

Pasar buku Indonesia dalam kurun waktu dua tiga tahun terakhir ini masih dibanjiri novel fiksi karya penulis perempuan dan sastra hiburan. Koran Tempo edisi 1 Agustus 2004 menurunkan catatan tak kurang dari 30.000 eksemplar novel karya mereka ludes di pasaran. Masih dari sumber yang sama, kebanyakan dari sastra hiburan tersebut dihasilkan oleh penulis perempuan usia di bawah 30 tahun. Seperti menguatkan data-data di atas, Rachmat H Cahyono (RHC) dalam tulisannya “Booming” Buku Fiksi (Kompas Minggu, 26 September 2004) berujar, sastra hiburan tampaknya tak akan kehilangan pembaca, sampai kapan pun. Continue reading “Buku Fiksi: Ramai Pembaca Sepi Pembaptis?”

Bahasa ยป