Menggairahkan Sastra di Kudus

Zakki Amali
ttp://cetak.kompas.com/

Waktu terus berlari, siapa pun yang tidak mampu mengimbangi laju waktu akan tertinggal. Tertinggal oleh waktu akan menjadikan manusia sebagai obyek, bukan subyek. Padahal, untuk dapat survive, manusia harus menjadi subyek atas waktu, mengelola dan mengolah waktu agar harapan tercapai. Paradigma inilah yang akan menggairahkan kembali kehidupan sastra di Kudus.

Banyak orang tidak tahu, bahkan (mungkin) warga Kudus sendiri, sastra pernah jaya di Kudus. Kala itu yang paling menonjol adalah Keluarga Penulis Kudus (KPK). Sebuah komunitas sastra daerah yang berdiri pada tahun 1991, didirikan oleh para sastrawan Kudus, seperti Yudhi Ms, Maria Magdalema Bhoernomo, dan Mukti Sutarman Espe. KPK berjasa besar dalam mengenalkan Kudus kepada daerah lain melalui karya sastra mereka. Pada dekade 1090-an eksistensi KPK menuai sukses besar. Karya sastra (cerpen atau puisi) mereka sempat merajai harian Suara Pembaharuan. Hampir setiap penerbitan halaman sastra memuat karya anggota KPK.

KPK telah menerbitkan beberapa antologi puisi, di antaranya Menara (1994), Menara 2 (1996), Menara 3 (1999), Matabunga (1999), dan yang terakhir Masih Ada Menara (2004). Pada dekade emas itu, “syiar” sastra juga dilakukan di radio-radio Kudus. Di radio Swara Manggala Sakti memunculkan program siaran Sastra dan Budaya yang diasuh oleh Faried Tommy dan kemudian diteruskan Dahrul Susanto.

Mereka membina komunitas pengirim karya sastra dengan, bahkan rubrik ini mampu menerbitkan antologi puisi Titian. Lebih ramai lagi, di radio Muria rubrik siaran Ladang Sastra yang diasuh Yudhi Ms, dan diteruskan Mukti Sutarman Espe telah menerbitkan buku antologi puisi, seperti Pintu Terbuka (1985), Pelabuhan Baru (1986), Seperti Angin (1987), Sang Parasu (1889), dan Angin Ladang (1996).

Sebelum KPK ada, di Kudus sebetulnya sudah terdapat banyak sastrawan dan penulis bidang sastra yang juga memompa denyut nadi kehidupan sastra, namun mereka berjalan sendiri-sendiri, hampir tanpa komunikasi, seperti Sulistiyanto Sw, Alex Achlish, A Munif Hamid, Toto Yuliadi, dan L Yona Aruna Ch. Dengan adanya jejaring komunitas sastrawan lokal, diharapkan mampu menggairahkan dinamika sastra di Kudus. Hal inilah yang, saat itu, menghantarkan Kudus sejajar dengan daerah pusat sastra, seperti Bali, Tanggerang, Tegal, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Mulai redup
Sungguh indah masa lalu Kudus, bergelimang karya sastra. Dengan kehadiran sastra di tengah-tengah kehidupan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam karya sastra sedikit demi sedikit merasuk menjadi bagian dari laku masyarakat. Dalam analisis Georg Lukacs-yang dikutip Ignas Kleden (2004)-karya sastra dapat berperan sebagai refleksi atau pantulan kembali dari situasi masyarakatnya, baik dalam menjadi sebuah salinan struktur sosial atau menjadi mimesis masyarakatnya. Inilah karakter sastra sesungguhya, menjadi medan refleksi bagi masyarakat umum.

Namun, kini muncul pertanyaan besar, di manakah gereget sastra saat itu? Sastra di Kudus memang masih berdetak, tetapi hanya mereka yang concern di bidang itu yang merasakan, selebihnya masyarakat awam, parahnya pelajar tidak tahu-menahu.

Setiap bulan sekali, tepatnya malam Sabtu Pahing, Padepokan Seni Murni Asih menggelar diskusi dan pentas yang menampilkan pembacaan puisi atau ekspresi seni lainnya. Dari acara selapanan ini, kita dapat melihat perjuangan warga lokal mempertahankan sastra di tengah situasi serba krisis. Akan tetapi, acara itu terasa eksklusif, masyarakat awam belum dilibatkan secara aktif, teruatama pelajar, khususnya yang mempelajari sastra.

Saya sendiri mengalami betapa tidak kenalnya para sastrawan Kudus. Sewaktu menempuh jenjang pendidikan tingkat menengah atas di salah satu madrasah aliyah di Kudus, satu sastrawan pun tidak ada yang saya tahu dan kenali. Padahal, saya sedang mengambil program jurusan bahasa yang mempelajari perihal sastra.

Sangat disayangkan apabila sastra harus sirna ditelan waktu. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menggairahkan kembali kehidupan sastra. Pertama, menjaring dan melibatkan kaum muda untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sastra. Kaum muda sangat berpotensial menggerakkan kehidupan sastra. Dengan segenap tenaga, inovasi, dan daya kreativitasnya, kaum muda akan menciptakan iklim kondusif bagi kehidupan sastra.

Untuk menjaring dan menggerakan kaum muda, KPK dan Dewan Kesenian Daerah, misalnya, mengawali dengan membuat program pengenalan atau pelatihan di sekolah, bahkan perguruan tinggi di Kudus, bertajuk sastra. Program ini bisa mengadopsi konsep Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang dijalankan Taufik Ismail bersama kelompok sastrawan majalah Horizon, beberapa waktu lalu. Para sastrawan Kudus turun ke sekolah-sekolah mengenalkan diri dan mengajak masuk ke dalam dunia sastra yang indah. Tentunya setelah penyuluhan ditindaklanjuti dengan membuat wadah kreatif bagi pelajar, membuat sayembara penulisan sastra, entah esai, puisi, cerpen, atau bahkan novel.

Para sastrawan kemudian memantau, membimbing, mengarahkan, dan mendorong kaum muda dalam belajar tentang sastra. Inilah salah satu tanggung jawab sosial sastrawan, mengader dan menyiapkan pegantinya.

Kedua, menggiatkan kembali program sastra di radio-radio. Sejarah telah membuktikan keberhasilan program sastra di radio dengan ditelurkannya antologi puisi. Kini, program siaran di radio kurang memberi dampak positif pada kehidupan sastra. Saat ini saya tidak menjumpai adanya program sastra di radio seperti tahun 1990- an. Saya tidak tahu masihkah ada atau tidak. Mungkin ada, tetapi saya tidak tahu, atau memang benar-benar tidak ada?

Ketiga, dukungan Pemkab Kudus menjadi salah satu instrumen penting menggerakkan program kerja sastrawan. Dengan memberikan dukungan material, diharapkan kehidupan sastra di Kudus meriah kembali. Di luar itu, pabrik-pabrik rokok serta industri besar lainnya yang ada di Kudus dapat diajak kerja sama dalam program itu. Terakhir adalah menyadari bahwa tugas ini bukan sekadar beban kelompok saja. Para sastrawan dan penulis individual yang concern di bidang sastra turut bertanggung jawab membangun kehidupan sastra yang bergairah di Kudus.

Perilaku aktif dari para sastrawan meneguhkan diri sebagai subyek atas waktu. Waktu yang membentang di hadapan dimanfaatkan untuk menggairahkan kehidupan sastra di Kudus.

*) Pegiat Komunitas Sastra “Pojok Sastra” STAIN Kudus, Jawa Tengah.

One Reply to “Menggairahkan Sastra di Kudus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *