Tetanggaku Cina

Weni Suryandari
http://oase.kompas.com/

?Ma……..Mama, Bu Mita udah pulang!? celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass
?Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?? Aku menyahut sambil membuka pagar. Continue reading “Tetanggaku Cina”

Gerimis Senja di Jendela

Abdullah Khusairi
http://www.jawapos.com/

Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar-getar jiwa menyatu malam itu.

Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Kecil sekali. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini. Continue reading “Gerimis Senja di Jendela”

Seni, Imajinasi, dan Kampanye Pencitraan

M. Shoim Anwar
jawapos.com

HARI-HARI ini di sekitar kita benar-benar dipenuhi oleh suasana dan media kampanye dengan simbol-simbol politik. Poster, baliho, spanduk, foto, selebaran, dan sejenisnya tumbuh seperti rumput liar di pinggir-pinggir jalan. Radio yang kita dengar, televisi yang kita tonton, serta koran yang kita baca telah dikepung oleh nuansa politik. Persuasi yang dimunculkan simbol-simbol itu terus berulang, mengalami repetisi dari waktu ke waktu untuk merogoh simpati kita. Ibarat menu, semua itu disajikan secara bersama-sama dan kita dipaksa untuk melahapnya. Atas nama pesta, awalnya kita memang sangat bernafsu melahapnya, tapi lama-lama kita pun muntah dibuatnya. Continue reading “Seni, Imajinasi, dan Kampanye Pencitraan”

Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Kata mengantarkan manusia untuk menciptakan, menemukan, menghancurkan, atau membunuh kota. Drijarkara (1956) mengingatkan, kota itu kata dan ruang yang mengandung kengerian dan risiko.

Kota sebagai kata memang memberi utopia dan janji indah tapi melenakan dan melengahkan. Kota sebagai ruang hidup adalah ruang kompetisi, konfrontasi, dan konflik. Kota dalam kisah dan deskripsi itu lahir dengan narasi kata dan kekuatan imajinasi. Kota itu hidup dan mati karena imajinasi dalam suatu konstruksi teks. Drijarkara menulis arti kota dengan referensi fakta kota-kota di Indonesia. Continue reading “Ziarah Imajinasi: Kata dan Kota”

Pesta Puisi, Silaturahmi Antargenerasi

Dari Gelar ”Percakapan Lilin” RDP

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

PENYAIR Riki Dhamparan Putra (RDP) telah meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya yang bertajuk “Percakapan Lilin” (LP) di Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk, Tanjung Bungkak Denpasar, pada Minggu (15/8) lalu. Berbagai kalangan hadir dalam peluncuran buku puisi penyair muda yang memang memiliki pergaulan luas itu. Tak hanya kalangan sastrawan, juga perupa, mahasiswa, sampai para aktivis LSM. Continue reading “Pesta Puisi, Silaturahmi Antargenerasi”

Bahasa ยป