Gerimis Senja di Jendela

Abdullah Khusairi
http://www.jawapos.com/

Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar-getar jiwa menyatu malam itu.

Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Kecil sekali. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini.

”Kau pintar sekali merayuku.”

”Buah dari rindu,” begitu jawabmu menancapkan kenangan.

Kita bertukar cerita. Merajut rasa dalam gejolak remaja yang malu-malu. Berjalan berdua pulang dan pergi, sekolah dan mengaji. Belajar bersama. Sesekali makan bakso, juga berduaan.

Inilah yang menumbuhkan daun-daun itu jadi mekar. Menguak cakrawala. Lama-lama kita jadi terbiasa. Berani. Dan kau memulainya dengan selera yang jantan mendekatiku. Aku diam menunggu dengan gigil. Mau berangkul malu.

Kau laki-laki tampan. Pintar pula. Teman-teman sekelas harus berjuang keras untuk dekat denganmu. Tapi pilihanmu jatuh kepadaku. Aku senang bercampur takut. Maklum masih remaja. Masih putik menjelang buah.

”Itulah yang membuatku jadi tertantang menaklukanmu,” betapa percaya dirimu amat tinggi dari dulu. Dan apa yang kau katakan benar adanya.

”Aku tak sanggup seperti teman-teman. Tahu diri siapaku? Mana ada keberanian untuk menggodamu,” jawabanku sekenanya saja.

Aku perempuan pendiam di kelas. Tak terlalu berani menonjolkan diri. Sungguh pun begitu, aku punya wajah cantik dan otak yang pintar. Setidaknya, itulah pengakuan yang pernah kau katakan kepadaku.

”Mungkin saja itu benar. Tapi kau pintar dan cantik. Pilihanku tidak keliru.”

Kau benar-benar membuatku menggelinjang. Serupa layang-layang di awang-awang. Mengigal batin yang tengah takut ketinggian.

Pada malam itu aku bersemu merah. Malam minggu yang indah. Di mana kau mulai berani menyentuh tanganku dengan gemetar, di bangku bawah pohon rambutan depan rumahku. Bohlam yang malas menyala, teras depan rumah yang sepi, taman kecil yang mulai diselimuti embun, saksi dari peristiwa ranum itu.
***

Sungguh, jujur aku katakan, itulah malam pertama aku disentuh seorang pemuda. Sehingga aku tak mampu melupakannya sampai dua puluh tahun lebih berlalu. Semuanya masih jelas. Tidak terhapus. Pun sedikit.

Seperti sebelumnya, suratmu datang dengan deras. Bahasamu indah dan enak dibaca. Merayuku setinggi langit. Membawaku terbang ke negeri di awan. Merona semua harapan menjadi merah delima.

Setiap menerima suratmu aku selalu bergegas pulang. Lalu masuk kamar dan tak lupa menguncinya. Maka setelah itu, sangat tenang aku membukanya. Hati-hati sekali. Membacanya dengan pelan-pelan dalam hati. Sekali lagi, aku melayang karenanya. Setelah itu aku lipat kembali dengan rapi. Aku masukkan ke dalam laci. Aduhai surat cintamu indah sekali wahai laki-laki tampan.
***

Hingga suatu masa yang retak. Ayah ibu menemukan surat-suratmu, mereka membakarnya ketika aku jatuh sakit. Itulah tragedi pertama dalam hidupku. Semuanya habis menjadi abu. Hanya tersisa dalam kepala.

Kau mengayun langkah menggapai cita-cita. Begitu jauh, begitu lama. Kau tinggalkan kota kecil ini bersamaku dengan setumpuk kenangan yang tak bisa dibiarkan terkubur di tanah mati. Aku jatuh sakit karenanya. Betapa sepi hari-hariku setelah kau pergi dari kota kecil ini. Seperti tak ada lagi semangat untuk menapak hari penuh dengan kesepian. Aku hanya mampu menyusun rindu demi rindu di laci. Aku menghitungnya setiap waktu.

Harapan pada Lebaran, hari libur, masih aku tuangkan. Berharap kau datang seperti dulu. Tetapi itu sia-sia. Kau ternyata lupa. Duniamu telah beralih. Pulangmu hanya sebentar saja. Tak datang lagi seperti biasa. Perih sekali rasanya. Aku ingin datang kepadamu namun lagi-lagi aku tahu diri. Tak mungkin. Aku takut disebut perempuan mencari pejantan. Tak tersurat dalam adat, perempuan datang kepada laki-laki.

Hingga sampai paksaan dari kedua orang tua agar aku menerima lamaran pemuda selain dirimu, aku masih tetap berharap sampai detik-detik akad nikah itu terjadi. Ternyata kau memang sudah melupakanku. Hatiku remuk ditikam dendam. Menumbuh benci. Kau laki-laki laknat juga kiranya.
***

Luka pada jiwa bertambah parah. Berdarah dan bernanah menjadi danau dendam tak sudah. Tenang di permukaan menyimpan pusar arus yang deras di dalamnya.

Aku maklum kau anak orang berada. Ayahmu kepala sekolah dasar tempat kita pernah satu kelas dulu. Pun begitu ibumu, seorang guru pula. Patut memang kau harus meneruskan pikiran mereka.

Sedangkan aku, seorang anak petani yang harus berjuang untuk menamatkan sekolah tingkat atas. Terlalu jauh punya mimpi tentang kuliah. Apalagi aku seorang perempuan. Aku mau dan merasa mampu, tapi apa yang harus aku lakukan untuk bisa kuliah sepertimu? Maka impian yang pernah datang aku usir saja secepatnya.

Aku telah bangga kau bisa pergi kuliah. Walau dengan berat menyatakan, betapa perih ketika kita tak lagi bersama. Berjarak waktu, bersekat adat pula.
***

Demikianlah kini. Bertahun-tahun lipatan kenangan itu telah usang tapi tidak pernah luntur. Ia mutiara dalam lumpur. Bersinar terang di hatiku.

Aku hanya seorang guru mengaji. Suami pegawai negeri rendahan. Kami tak punya keturunan sampai hari ini. Rumah tangga kami kesepian. Pun rumah tangga ini terbangun karena pusaka pula. Aku tak bisa apa-apa. Cuma bisa berharap pada angin lalu, kau masih ingat kepadaku. Gadis kecil yang pernah bersamamu ketika remaja merambah kita. Ingatkah kini kau denganku? Navisah binti Nurdin ini, teman sekelas sejak sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas? Ingatkah semua puisi yang kau tulis untukku? Semua keindahan yang kita ciptakan dengan rasa malu dan takut mendera?

Masih ingatkah kau tentang buku Kahlil Gibran berjudul Sayap-Sayap Patah yang kau pinjamkan? Buku pelajaran tentang Abu Yazid al-Mansyur al-Bustami yang membuat kita memahami syatahat, fana, baqa’ dan ittihad? Lalu kita mengenal puisi-puisi Hamzah Fansuri. Pertikaian di Kesultanan Aceh.

Sederetan tokoh penting tertanam dalam kepala kita. Abdul Rauf Singkel, Syamsudin al-Sumatrani, Nurruddin ar-Raniri, dan Muhammad Arsyad al-Banjari. Kita menghafalnya dalam pengajian dan pelajaran agama di sekolah. Belum lagi ditambah dengan sebatang demi sebatang puisi yang kau berikan.

Sungguh, aku tak berharap begitu besar agar kau bisa mengingatnya. Apalagi hanya akan membuat nama dan pekerjaan besarmu bisa terganggu. Aku tak mau itu terjadi.

Kini aku sering tersenyum mengingat pikiran kecilku. Pikiran yang terlalu indah menyelip ketololan. Di mana menjelang tidur aku berangan-angan tentang dirimu yang menjemputku. Lalu pergi ke kota. Ke tempat tugasmu. Di mana kau sudah menjadi orang besar. Aku berharap untuk mendampingi hidupmu. Menjadi permaisuri di rumah dinasmu.

Aku telah menduga kau jadi orang besar. Jadi pejabat penting. Punya kesibukan seperti yang aku lihat di televisi. Orang-orang berdasi, senyum sumringah, mobil mewah, dan segala macamnya. Semua itu memang aku lihat dari awal. Saat remaja kita dayung.

Tapi punya istri cantik dan itu bukan aku, adalah perih yang menyalak di dada. Siapakah perempuan yang beruntung itu? Maukah kau memperkenalkan dirinya pada diriku? Walau aku hanya akan memungut sepi bersama iri dan risih yang merajuk.

Jika kini aku menguraskan semua tenaga dan pikiran menuliskan semua sisa-sisa kenangan ini, tiada lebih karena sesuatu sering hadir di hadapanku untuk mengingat semua kenangan.

Kejantananmu masih aku lihat di foto-foto yang tersebar itu. Pada rahang yang kuat dan mata yang menyalang menatap garang tapi teduh itu. Aku hanya sedikit melihat raut menua di wajahmu. Wajah yang pernah aku usap dulu.

”Ini panggilan hati untuk kembali membangun rakyat,” begitu pidatomu pernah aku dengar. Masih setegas dulu, sewaktu kau marah kepadaku karena terlambat memenuhi janji bertemu di sebuah taman kantor yang tak ditempati lagi. Tak punya penghuni. Tamannya tak terurus lagi. Di sana, kita duduk berdua dengan gigil yang sering datang menakutkan.

”Sebagai orang yang peduli untuk negeri,” kau sepertinya sudah sangat mahir memainkan kata-kata. Lancar dalam menyebutkan istilah-istilah terkini. Senyum mengembang. Sisa-sisa ketampanan itu membuat aku sesekali makin membenci nasib.

”Potensi negeri ini akan membuat kesejahteraan. Selama ini dikuras pemimpin korup.”

Aku tak mengerti politik. Cuma tahu dari sobekan koran-koran bekas pembungkus bawang. Apalah yang bisa diharapkan pengetahuan dari sobekan koran? Sungguh ini pilu yang sempurna dari sembilu hidup.

Kini pembicaraanmu sudah berbeda, namun tetap merayu. Jika dulu rayuan mautmu kau gunakan untuk menundukkan logikaku, kini semua itu kau gunakan untuk merayu orang-orang agar mau memilih dirimu jadi wakil dari mereka.

Kau memakai bahasa yang amat tinggi. Acap tak cepat aku mengerti. Seperti aku tak mengerti dengan pikiran dan sikap orang-orang hebat.

Pulang maklum itu, sebab tak ada buku yang bisa aku baca seperti dulu. Aku hanya seorang guru mengaji di taman pengajian anak-anak tempat kita dulu pernah bersama menuntut ilmu agama dengan Pak Haji Muchtar Ahmad. Pagi hari ke sawah, sore hari mengajar. Pada malamnya sudah harus melayani suami. Setelah itu, lelah membawa lelap. Sudah jarang menuai mimpi.

Memang tak terasa hingga dua puluh tahun lebih berlalu. Kini kau hadir menggali kenangan menjadi gerimis di senja hari yang buta ini, hinggap di jendela. Aku pikun untuk mengungkapkan betapa sederhana cintaku kepadamu. Sepasrah ilalang didera badai. Seperti puisi yang kau perkenalkan dari Sapardi Djoko Damono itu.
***

Kadang-kadang memang ingin aku memberontak, kenapa aku begitu lemah untuk bangkit seperti perempuan-perempuan lain. Tapi setelah pikiranku tak kalut lagi, aku mengerti pada posisi mana aku berada. Tahu diri.

”Aku akan kuliah ke kota. Jangan tunggu aku jika kau harus hidup berdua. Kau mungkin akan cepat menikah. Kuburkan saja setumpuk kenangan kita.”

Hari itu gerimis sejak pagi. Dingin. Tapi aku membungkus diriku dengan jaket jeans hadiah ulang tahun darimu. Sementara, kau tidak. Kau memakai seragam Pramuka yang gagah itu. Banyak lambang-lambangnya. Aku kagum dengan penampilanmu. Waktu itu, kita makan bakso di pasar.

Ada ngilu di hatiku. Mataku menatap kekosongan ke sungai deras di depan kita. Pasar yang ramai hari itu sepertinya sepi sekali. Tak sepatah kata yang dapat aku ucapkan sampai kau mengantarkan aku di depan pagar rumah.

”Bukan aku tak menyayangimu. Namun aku tak sanggup melihatmu menderita terlalu lama. Pun jika kau siap, aku tak rela,” begitu serius engkau membangun kalimat berucap wahai lelaki tampan. Aku bergetar mendengar kalimat-kalimat itu dengan pasti. Menyangkut kebenaran yang ada di dalamnya, aku memang menerima pasrah. Benar apa yang kau katakan itu.

Tapi rasa sakit di dadaku siapa yang tahu. Apa kau juga merasakannya? Kita memang masih begitu muda untuk mengambil sikap berani waktu itu. Kita baru kelas satu sekolah lanjutan tingkat atas. Terlalu cepat untuk memikirkan hal yang cukup serius. Kita masih hanyut dengan segala pesona yang datang melanda, sorak sorai masa remaja. Di mana denting gitar, lagu cinta, dan segala macam polah zaman itu kita berhanyut bersamanya.
***

Kini, nama dan wajahmu ada di mana-mana. Baliho, spanduk, stiker dengan senyuman yang sama, nama yang sama. Nama yang lengkap dengan segala titel yang kau gapai. Kau membuat gerimis setiap senja berlabuh di sini.

Aku hanya mengenalmu dengan nama, Arie Wibowo. Nama yang mengingatkanku pada penyanyi Madu dan Racun, Singkong dan Keju, yang sudah lama pergi ke alam orang mati.

Dan bila lagu itu terngiang di telinga, sumbu sejarah dalam kepalaku akan menyala api sebentuk rindu yang hangat. Kadang juga mengugah pipi dengan tetes sepi yang menetas dari mataku. Kini pun rindu itu basah dalam gerimis senja yang membuncah. Selembar demi selembar aku susun lagi. Serupa gerimis yang hingga di jendela. Gemersiknya kadang terdengar oleh suamiku yang kini sepuh dilalap nasib.

Hari pemilihan memang tak lama lagi. Aku salah seorang pemilih dari jutaan pemilih di negeri ini. Akan aku gunakan hak pilihku, untuk memilihmu. Memilih dengan rasa dendam dan benci yang tak pernah punah.

Ini pilihan yang basi. Pilihan yang tak patut. Namun aku tak ingin kau gila, karena tak terpilih nanti. Pernahkah kau dengar ada orang bunuh diri karena tak dipilih? Pernahkau kau dengar, ada yang gila karena kekalahan? Kalah memang sesuatu yang pahit. Nah, aku tak sanggup melihatmu menelan nasib pahit itu. Biarlah aku, biarlah.

Pada sisi hati yang lain, ada setetes kebanggaan menetas dalam sisa-sisa umur di tubuh yang makin keriput ini. Aku ingin, orang yang terpilih menjadi wakil dari daerah kami adalah seorang yang pernah memberi tanda di dadaku. Tanda yang menyala merah.

Satu yang aku inginkan lagi, ingatkah kau dengan masa remaja kita? Jika kau masih ingat, datanglah kepadaku walau sekejap saja. Aku akan mengatakan kepadamu, aku memilihmu karena dendam yang tak sudah.

Bila kau sempat membaca cerita ini, temui aku di tempat yang dulu. Semoga kau bisa. Dan tak merasa malu untuk mengungkap maaf. Sebab, aku tahu kau sebenarnya tak begitu jujur pada diri sendiri. Kau juga seorang penipu tentunya. (*)

Balaibaru, Desember 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *