Tag Archives: A. Qorib Hidayatullah

Menyoal Idealisme Mahasiswa di Jatim

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Ruh perjuangan mahasiswa adalah kejujuran dan keberanian, bukan ABS (Asal Bapak Senang), miminjam istilah Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (2001).

Peta perubahan yang diinisiasi mahasiswa di Jatim saat ini sangatlah miris. Aksi-aksi demonstrasi yang dibidani mahasiswa saat ini hanya menunggu lemparan isu dari media. Tak ada pembacaan independen dari mahasiswa mengawal melakukan kontrol publik atas pemerintah.

Buku Di Balik Penjara

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Rupa-rupanya, penjara tak melulu sebagai tempat para pesakitan yang terpatologi secara sosial hingga akhirnya mereka tak produktif.

Banyak karya literasi bertengger dahsyat di balik terali penjara. Pada masa kolonial, Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan lain-lain membesut pemikiran-pemikirannya di ruang tahanan. Bung Hatta menulis, ?Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja. Karena dengan buku, aku bebas!.?

Meremajakan Komunitas Kebudayaan di Malang

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Di tengah geliat proyek pembangunan di Malang yang tampak menggila, masyarakat (juga termasuk mahasiswa) digiring akrab dengan mal, dan ritel modern lainnya. Masygul, sejalan dengan itu, komunitas kebudayaan di Malang perlahan-lahan ditinggalkan masyarakat dan absen pengunjung.

Sejatinya, komunitas kebudayaan menjadi pilar saling tukar pikiran dan ajang tegur sapa antar masyarakat di Malang. Namun, tampak tragis, di awal tahun 2009 komunitas Poestaka Rakjat yang bertempat di jalan MT. Haryono sudah gulung tikar.

Berenergi Sedih

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Sehabis membaca cerpen (cerita pendek) Mein Dina Oktaviani di Jawa Pos, 29 Juni 2008 membuatku kembali berenergi positif dalam hidup. Hari-hari terakhir ini, aku sangat malas dan dihantui kesuntukan pesimis menjalani hidup. Hidup seakan sangat menjenuhkan sekali dan hanya menambah-nambah masalah saja. Dalam keadaan seperti itu, di mana kondisi psikis sangat tak bisa diajak kompromi, aku sonder seluruh rutinitas kegiatan, semisal membaca dan menulis. Jujur, hal lain yang membuat aku tertarik pada cerpen itu adalah ilustrasi apik (gambar gadis beraut sedih seakan berharap sesuatu) yang akrab dengan warna jiwaku.

Parafrase Kesedihan

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Mereka enggan hidup nyaman dengan kesibukan permanennya yang melulu menghamba pada rotasi mesin berdaya konsumerisme. Mereka membaktikan hidup di desa-desa kumuh dengan tetap menggawangi idealisme berkatologisasi pengetahuan, yaitu memilih hidup keranjingan membaca.