Meremajakan Komunitas Kebudayaan di Malang

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Di tengah geliat proyek pembangunan di Malang yang tampak menggila, masyarakat (juga termasuk mahasiswa) digiring akrab dengan mal, dan ritel modern lainnya. Masygul, sejalan dengan itu, komunitas kebudayaan di Malang perlahan-lahan ditinggalkan masyarakat dan absen pengunjung.

Sejatinya, komunitas kebudayaan menjadi pilar saling tukar pikiran dan ajang tegur sapa antar masyarakat di Malang. Namun, tampak tragis, di awal tahun 2009 komunitas Poestaka Rakjat yang bertempat di jalan MT. Haryono sudah gulung tikar. Poestaka Rakjat populer dengan komunitas 28-an (baca: komunitas wolu likuran) yang menjembatani masyarakat konsisten merawat tradisi-tradisi lokal Malang lewat diskusi-diskusi tentang kebudayaan. Seingat penulis, Poestaka Rakjat di pengujung 2007 sempat bekerjasama dengan DKM (Dewan Kesenian Malang) menggelar pentas amal untuk mbah Gimun (tokoh Topeng Malangan) saat sakit.

Di samping mengecer diskusi kebudayaan, Poestaka Rakjat juga membuka transaksi jual beli buku-buku klasik. Sehingga, gerai yang ditempati Poestaka Rakjat dibilangan MT. Haryono terdiri dari dua lantai. Lantai satu tempat menjajakan dan menjual buku-buku klasik, di lantai dua disulap menjadi ruang diskusi yang sangat asyik-masyuk.
Selain Poestaka Rakjat, di jalan Bogor ada komunitas Kedai Sinau. Kedai Sinau merupakan tempat diskusi-diskusi kritis renyah mengalir yang dihadiri para aktivis-aktivis gerakan mahasiswa dan masyarakat. Di Kedai Sinau juga menjajakan buku-buku dengan beragam tema.

Di Perpustakaan Kota Malang, ada Forum Penulis Kota Malang (FPKM) yang lazim menggelar diskusi tiap Minggu siang di areal lantai satu. Forum ini lebih mengarah pada kajian-kajian penulisan kreatif, fiksi maupun non fiksi. Fokus pada tulisan-tulisan fiksi, di jalan Diponegoro ada Forum Pelangi ampuan mbak Ratna Indraswari Ibrahim membidani bagi siapa pun yang cinta akan sastra, karangan prosa (novel, cerpen, cerbung, novellet, dll) serta puisi.

Dalam rangka menyemarakkan tradisi literasi (budaya baca-tulis), aktivis MCW (Malang Corruption Watch) menyediakan tempat bagi penulis-penulis muda Malang di jalan Kali Metro. Sehingga, pertengahan 2009, lahirlah komunitas Lembah Ibarat yang sekaligus ditandai dengan launching antologi puisi Doa Akasyah.

Dari sekian komunitas kebudayaan di Malang, yang masih aktif beroperasi hanya beberapa gelintir saja. Misalnya, Rumah Baca Cerdas (RBC) di areal Perumahan Permata Jingga yang hendak meluncurkan buku rampai, tulisan-tulisan hasil dari diskusi saban hari Jumat. RBC didirikan oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) era Megawati Soekarnoputri, Bapak Malik Fadjar. Selain menjadi wahana diskusi, RBC juga perpustakaan buku yang bisa diakses oleh masyarakat umum.

Di wilayah Tumpang, Kabupaten Malang, ada pula Perpustakaan Anak Bangsa ampuan Eko Cahyono. Perpustakaan Anak Bangsa berada di wilayah pedesaan. Perpustakaan yang berdiri telah lama itu, saat ini memiliki puluhan ribu koleksi buku dengan anggota lebih dari dua ribu orang. Namun, nasib miris melanda eksistensi perpustakaan yang dikelola Eko Cahyono tersebut. Pasalnya, Perpustakaan Anak Bangsa terancam ditutup, tak lagi melayani masyarakat ihwal membaca disebabkan pengelola tak kuat lagi membayar uang sewa bangunan.

Dari kejadian yang menimpa Perpustakaan Anak Bangsa tersebut, diharap bagi pihak pemerintah Kabupaten Malang dan pihak siapa pun yang ikhlas menyalakan filantropinya membantu perpustakaan pelosok itu agar urung ditutup.

Keberadaan beragam komunitas kebudayaan merupakan aset berharga bagi masyarakat Malang. Dengan begitu, pasang surutnya komunitas kebudayaan di Malang adalah tanggungjawab kita semua, terlebih bagi generasi muda seperti mahasiswa. Membangkitkan mesin komunitas kebudayaan memerlukan kesadaran lebih dan mendalam serta aksi yang konkret dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.

Mengaktifkan komunitas kebudayaan memang tak mudah. Dalam gerakan kebudayaan yang diimplementasikan pada komunitas-komunitas, pun juga membutuhkan mufakat kebudayaan. Budayawan Radhar Panca Dahana menjadikan mufakat kebudayaan sebagai medium tempat seniman, cendekiawan, budayawan, dan masyarakat berkumpul, mencoba menjalankan fungsi dan peran strategis serta historisnya dalam menemukan beberapa kesimpulan yang penuh visi terhadap berbagai persoalan kebudayaan (Kompas, 26/12/2009).

Medio tahun 1973, profesor Koentjaraningrat yang pakar bidang kebudayaan dihubungi wartawan Kompas untuk menulis masalah mentalitas dan pembangunan (Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Cet ke 19, Tahun 2000). Pembangunan juga menyumbang problem bagi kebudayaan. Koentjaraningrat berbicara mengenai kesiapan mentalitas kita menghadapi pembangunan. Misalnya, kematangan konsepsi (pandangan), dan sikap mental terhadap lingkungan di tengah semaraknya proyek pembangunan.

Merujuk profesor Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai hasil kreasi/cipta, rasa dan karsa. Komunitas kebudayaan bukanlah semata tempat berekspresi yang hampa. Dari komunitas kebudayaan, masyarakat Malang bisa memelihara tradisi kuna dan mampu mencipta kebudayaan masa depan yang bergelimang nilai dan makna.

Ekspektasi paling besar akan eksistensi komunitas kebudayaan di Malang ialah lahirnya seniman, budayawan, dan cendekiawan baru seperti Agus Sunyoto dan Ratna Indraswari Ibrahim, dll. Lewat komunitas kebudayaan semangat mereka bisa kita warisi.

Cinta pada komunitas kebudayaan itu niscaya. Sehingga, Goethe menulis simponi kelima Beethoven, ?Seandainya semua pemusik di dunia memainkan gubahan ini secara serempak, maka planet bumi ini akan lepas dari porosnya.? Di tahun yang baru ini, 2010, mari berjemaah meremajakan komunitas kebudayaan di Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *